About Me

My photo
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Menggapai cita-cita bagaikan membajak sawah, menabur benih padi, mengatur pengairan, memelihara padi yang mulai tumbuh, memberi pupuk, melindunginya dari serangan hama penyakit, menengoknya setiap hari, merawat bagian yang sakit dan mengaturnya agar serasi, kesemuanya itu membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Tidak ada jalan pintas untuk dapat memanen tanpa melalui tahapan-tahapan yang disebut di atas.

Tuesday, April 23, 2013

Pernahkah terpikirkan oleh diri kita?

Sebuah renungan atas setiap tindakan yang telah dilakukan oleh seseorang dan berdampak kepada orang lainnya. Misalnya ketika seseorang yang sangat berkecukupan lagi dermawan. Sebut saja beliau adalah si fulan. Si fulan ini dalam hidupnya telah mengadopsi beberapa anak yatim piatu untuk dibiayai sekolahnya.Dia juga memberikan bantuan keuangan rutin kepada beberapa panti jompo. Selain itu dia juga mempekerjakan beberapa orang dirumahnya, dimana sebagian besar adalah kaum miskin. Meskipun pekerja tadi tidak memiliki keterampilan yang memadai, si Fulan tetap saja memberikan lapangan pekerjaan kepada mereka, dengan satu tujuan ingin membantu mereka dan berbagi rejeki atas karunia yang diberikan Tuhan kepada si Fulan. Dengan berbagai kondisi di atas, secara tidak langsung si Fulan ini merupakan tulang punggung banyak orang. Rejeki yang datang dari Tuhan ini dilewatkan melalui si Fulan dan disalurkan ke orang lainnya. Suatu hari, si Fulan bertemu dengan seseorang, karena sifat dermawannya ini dia bisa cepat akrab dan seperti biasanya ingin selalu membantu orang lain. Seseorang ini sebut saja nama si Culas. Culas saat berkenalan dengan Fulan, menyampaikan beberapa keluhan yang dialami dalam hidupnya. Setiap kesulitan yang dihadapinya disampaikan oleh Culas kepada si Fulan. Mendengar keluhan dari si Culas ini, Fulan ingin membantunya, dengan cara ditawarinya pekerjaan. Singkat cerita, karena si Culas menunjukkan prestasi, beberapa bagian pekerjaan penting hingga masalah keuangan dipercayakan kepadanya. Hingga suatu hari, dimana si Culas sedang menghadapi persoalan dalam kehidupannya, dan kebetulan memerlukan biaya yang sangat besar. Dia mulai berbuat curang terhadap si Fulan. Si Fulan tidak menyadari bahwa dirinya sedang ditipu oleh si Culas, hingga pada titik semua kekayaan si Fulan telah lenyap dan si Culaspun pergi entah kemana. Dari sedikit cerita di atas, pelajaran apa yang bisa kita ambil? Perbuatan si Culas, dengan sifat buruknya dia telah berbuat jahat kepada si Fulan, hingga menggerogoti kekayaan si Fulan dan menyebabkan si Fulan tidak memiliki kekayaan lagi. Apakah perbuatan si Culas ini hanya menyebabkan kesengsaraan pada diri si Fulan saja? Adakah si Culas berfikir bahwa akibat perbuatannya, banyak orang menjadi sengsara secara tidak langsung? Bayangkan saja si Fulan yang dermawan ini akhirnya tidak bisa membiayai sekolah anak yatim piatu yang diadopsinya, dia juga menghentikan sumbangannya ke beberapa panti jompo, dan dia tidak bisa membayar gaji orang-orang miskin yang dipekerjakan ditempatnya. Berapa banyak orang yang menjadi korban akibat keserakahan dari satu orang yang bernama si Culas? Kita sebagai manusia bagian dari makhluk sosial yang hidup diantara manusia lainnya, terkadang tidak pernah berfikir panjang atas apa yang kita lakukan. Kita hanya bisa mengeluh atas cobaan yang diberikan Tuhan kepada kita. Dan dengan dalih kemiskinan dan hidup susah, kita dengan mudahnya membenarkan tindakan buruk atau membebani orang lain agar membantu kita. Bahkan dengan cara-cara yang keji dan tidak berprikemanusiaan. Menipu, memperalat, memanfaatkan, mengancam, menyebar fitnah, menggunakan kekuasaan, dan hal buruk lainnya dipergunakan untuk kepentingan pribadi dan memuaskan keinginan pribadi, sehingga mengorbankan orang lain. Ironisnya, kita hanya berfikir bahwa yang kita jadikan korban hanyalah segelintir orang. Kita tidak pernah berfikir bahwa orang yang kita jadikan korban ini adalah orang yang memberikan banyak manfaat bagi orang lain. Sehingga pada saat orang ini sudah kehilangan kemampuannya, maka semua orang yang telah dibantunya juga kehilangan sumber manfaat dari orang yang telah kita jadikan korban tersebut. (Surabaya, 23 April 2013).

Saturday, January 22, 2011

Kepemimpinan (Leadership) bukanlah sebuah Level Jabatan atau Jenjang Karir

Dalam setiap training terkait topik management atau leadership yang saya bawakan atau pas kebetulan mendapat kesempatan mengikuti training, beberapa pertanyaan yang relative sama selalu muncul disampaikan peserta. Pertanyaan tersebut sangat relevan dengan judul yang ingin saya kupas pada kesempatan kali ini. Bagaimanakah caranya agar kita bisa mendapatkan kesempatan untuk promosi? Bagaimana caranya kita bisa manager dalam waktu cepat? Bagaimana caranya agar saya bisa menjadi pemimpin di departemen dimana saya bekerja saat ini?
Pertanyaan-pertanyaan sejenis di atas bervariasi, tetapi pada intinya adalah sama, bagaimana saya bisa berada diposisi tertinggi didepartemen? Divisi? Atau Organisasi?
Setiap individu yang bekerja atau aktif dalam sebuah organisasi baik bisnis maupun non bisnis (bisa juga dibidang politik), pastilah memimpikan untuk bisa menjadi pemimpin. Meskipun tidak menjadi yang tertinggi, paling tidak bisa memiliki beberapa anak buah, sehingga dia merasa bangga atas posisinya tersebut. Tetapi tidak sedikit pula mereka yang tidak memiliki ambisi atau keinginan untuk menjadi pemimpin. Bagi kelompok ini bekerja menjadi bagian dari team sudah membuatnya puas.
Kita coba fokus pada kelompok pertama, dimana mereka menginginkan untuk bisa terus menanjak jenjang karirnya. Dalam prosesnya banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan posisi ini. Ada yang memilih cara yang baik, dan ada pula yang menggunakan trik-trik tertentu agar bisa mendapatkan keinginan pribadinya. Dalam tulisan saya terdahulu (tahun 2009), saya sempat mengupas perbedaan tentang Character dengan Personality.
Seorang pemimpin ada yang Genuine (orisinal) dan ada yang dipoles dengan topeng lain. Dilapangan mungkin saja kita kesuliltan membedakan kedua hal ini. Tetapi beberapa orang yang telah berpengalaman, akan sangat mudah melihat kedua perbedaan ini.
Seseorang yang memiliki ambisi positif untuk menjadi pemimpin, akan terus berjuang agar apapun yang diberikan kepadanya sebagai tugas atau kewajibannya, selalu diselesaikan dengan baik dan penuh dedikasi. Kelompok ini akan selalu mementingkan keberhasilan secara bersama, memberikan manfaat kepada sesama rekan kerjanya, melindungi organisasi atau perusahaan dimana dia bekerja dengan dedikasi penuh yang ikhlas. Bagi kelompok ini, take and give adalah sebuah harmoni yang begitu indah yang tidak layak untuk dinodai. Take and give yang dimaksud adalah dimanapun mereka bekerja mereka mendapat fasilitas, gaji, perlindungan dari perusahaan. Disamping itu mereka menerima kewajiban (amanah pekerjaan) yang harus mereka selesaikan agar perusahaan bisa mencapai tujuannya. Termasuk dalam kelompok ini adalah organisasi/perusahaan yang dengan sungguh-sungguh menjalankan kegiatannya dengan tetap bertanggung jawab pada lingkungan sekitarnya (good citizen). Keberadaan organisasi/perusahaan memberikan manfaat nyata bagi kemakmuran, kemajuan, kesejahteraan dan bahkan keseimbangan pada alam sekitarnya.
Disisi yang berbeda kita coba tengok kelompok yang memiliki ambisi tetapi melakukannya dengan cara yang negatif. Kelompok ini memiliki ciri khas yang bisa dilihat nyata. Mementingkan kelompok, mementingkan golongan, mementingkan pribadi. Dan tidak sedikit yang mengorbankan rekannya agar dia memperoleh apa yang diinginkannya. Kelompok ini akan menggunakan seluruh potensi baik yang positif dan yang negatif, mereka sangat licik dan cenderung agresif. Tidak jarang pula disertai dengan pendekatan kepada atasan yang berlebihan. Kelompok ini sangat antusias untuk membuat atasannya merasa senang dengan apapun yang dia kerjakan. Keinginan untuk membuat atasan senang bukanlah tanpa maksud, tetapi tidak lain agar dia segera mendapatkan kepercayaan yang dia inginkan.
Melihat dua kelompok yang kontras di atas, mari kita kembalikan pada hakekat hidup. Alam diciptakan dalam keadaan seimbang. Jika terjadi gangguan atau pergeseran, maka alam akan mencari kesemibangan baru. Proses menuju keseimbangan ini terkadang disertai bencana yang memilukan dan banyak memakan korban. Demikianlah sebuah hukum yang sudah dibuat (Sunnatulah). Kehidupan dialam ini haruslah dalam balutan harmoni yang indah, mahluk hidup dan lingkungan bersinergi membuat bentuk kehidupan menjadi lebih baik. Manusia satu dengan manusia yang lain saling mambantu, menyayangi, melindungi, menghormati, memberitahu kepada yang belum tahu, mendidik agar menjadi santun dan seterusnya. Demikian dengan setiap pekerjaan yang kita lakukan. Harusnya pekerjaan tersebut harus memberikan kebaikan. Kita mengerjakan setiap pekerjaan bukan berfokus pada orang lain agar merasa senang. Tetapi lebih berfokus pada bagaimana seharusnya pekerjaan itu diselesaikan dengan sebaik-baiknya tanpa embel-embel agar atasan kita senang atau agar kita tidak dimarahi oleh atasan.
Jika kita melakukan sebuah pekerjaan hanya karena takut dimarahi atau ditegur oleh atasan, maka sebenarnya kita tidak memahami hakekat hidup, seperti yang saya ilustrasikan pada paragraph sebelumnya. Kerjakanlah setiap tugas yang diberikan sesuai dengan yang seharusnya, tidak perlu khawatir apakah atasan mengawasi atau tidak, jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh dan dikerjakan dengan benar maka kita akan mendapatkan semuanya. Pekerjaan menjadi selesai, orang yang melanjutkan langkah berikutnya dari hasil kerja kita menjadi senang dan puas, atasan akan ikut merasa senang. Janganlah mengerjakan sebuah tugas hanya jika anda diawasi atau karena takut atas teguran. Itu artinya anda tidak paham makna dari pekerjaan anda.
Pekerjaan adalah sebuah pengabdian dan pelayanan, jika anda lakukan secara orisinal dan tulus, pengabdian dan pelayanan anda tidak akan pernah sia-sia. Dan jangan lupa untuk selalu memahami pekerjaan yang diberikan kepada anda. Memahami pekerjaan adalah mengerti “mengapa” pekerjaan itu harus ada dan dikerjaan demikian? Bukan hanya hafal langkah-langkahnya. Kebanyakan jika anda hafal saja, suatu saat anda akan melakukan kekeliruan. Mereka yang mengabdikan dan memberikan pelayanan pekerjaannya dengan baik dan sempurna, akan mendapatkan kesempatan berikutnya dengan jenjang lebih tinggi. Setiap jenjang yang diperoleh dengan prinsip pengabdian dan pelayanan ini akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas. Pemimpin yang akan selalu memberikan perlindungan, mengedepankan kepentingan yang lebih besar, membuat pengikut-pengikutnya memiliki hidup yang lebih baik dan lebih makmur sejahtera. Membawa perusahaan yang dia pimpim menjadi yang terdepan dan terbesar. Pemimpin orisinal, humble (sederhan tetapi berisi), tetap santun, tidak angkuh atas jabatannya. Baginya jabatan sebagai pemimpin bukanlah karir yang bisa dibanggakan. Tetapi menjadi pemimpin adalah sebuah tanggung jawab, pengabdian dan pelayanan.
Apakah anda masih memiliki ambisi menjadi pemimpin untuk kepentingan kelompok atau diri anda sendiri? Ataukah anda siap untuk bertanggung jawab, mengabdi dan melayani? Pilihan ada pada diri anda.

Manyar Tompotika Surabaya, Sabtu, 22 Januari 2011, 17.43 wib.
"Jika hamba-Ku berniat melakukan kebaikan dan ia tidak mengerjakannya, Aku menulis baginya satu kebaikan. Jika ia mengerjakannya, Aku menulis sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat untuknya. Dan jika ia berniat melakukan kejelekan dan ia tidak melakukannya Aku tidak menulis kejahatan baginya, dan jika ia melakukannya Aku menulis satu kejahatan baginya." [HR. Muslim]