About Me

My photo
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Menggapai cita-cita bagaikan membajak sawah, menabur benih padi, mengatur pengairan, memelihara padi yang mulai tumbuh, memberi pupuk, melindunginya dari serangan hama penyakit, menengoknya setiap hari, merawat bagian yang sakit dan mengaturnya agar serasi, kesemuanya itu membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Tidak ada jalan pintas untuk dapat memanen tanpa melalui tahapan-tahapan yang disebut di atas.

Sunday, March 29, 2009

Bagaimanakah mungkin ketulusan dan perjuangan (kerasnya usaha) hanya dinilai dengan kejadian fisik belaka?

Sering kita mendengar seorang mengeluh mengapa saya tidak bisa mencapai tujuan padahal telah banyak yang telah saya lakukan? Mengapa saya mengalami kesialan padahal saya telah banyak memberikan pengorbanan atau membantu mereka yang memerlukan? Mengapa banyak orang percaya bahwa promosi atau kampanye bisa memberikan dukungan dan keberhasilan?
Sebuah keberhasilan juga bisa dilihat dari dua sudut yang sangat kontras. Keberhasilan yang bersifat instan dan keberhasilan yang diperoleh dengan penuh perjuangan dengan mengedepankan nilai kebenaran universal.
Saya pernah menyinggung masalah instan dalam tulisan saya sebelumnya (perbedaan karakter dan personaliti). Dalam kehidupan ini, kita bisa belajar dari alam. Alam tidak mengajarkan kita untuk bisa mendapatkan sesuatu secara instan. Jika kita ingin memanen padi, maka kita harus menanam. Menanam itupun memerlukan suatu proses yang cukup panjang dan banyak persoalan yang harus dihadapi dengan kesabaran dan keikhlasan. Perjuangan dalam proses tersebut meliputi usaha fisik, materi, dan waktu. Terkadang ditengah proses, banyak kejadian yang tak terduga terjadi, misalnya serangan hama, iklim yang tidak bersahabat dan banjir. Selama proses kita harus disiplin dalam melewati tahapan demi tahapan yang ada. Setiap tahapan harus berurutan sesuai dengan kaidah baku yang telah ada, kedisiplinan dalam melakukan pengawasan dengan datang secara rutin disertai melakukan tindakan yang pasti. Setiap kelengahan dan kelalaian akan berakibat fatal pada tanaman yang akan dipanen. Ibarat kata, jika kita tidak memberikan perhatian yang memadai (sesuai porsi yang seharusnya), maka tanaman kita juga tidak akan tumbuh sesuai dengan harapan kita. Satu hal lagi, bahwa saat panen pun harus sesuai dengan waktunya (tidak bisa dipercepat ataupun diperlambat). Mungkin anda tidak setuju dengan pernyataan di atas. Bahwa dengan usaha ekstra, melalui usaha penelitian ilmiah, proses menanam hingga panen bisa dipercepat. Tetapi prinsip yang perlu diingat adalah semua ada waktunya, jika sudah saatnya maka dia akan datang.

Kembali pada proses pencapaian keberhasilan, ada kala seseorang mengambil jalan pintas dengan tidak mengikuti kaidah yang sesuai dengan contoh di atas. Dengan melakukan sikutan ke kiri ata ke kanan, menginjak di bawah, mengelus yang di atas. Lebih tragisnya lagi, yang bersangkutan tidak menambah kemampuannya. Tetapi tidak sedikit mereka yang mengambil di jalur ini mendapatkan kesuksesannya.

Tetapi perlu diingat kesuksesan yang diraih melalui cara ini sebenarnya adalah kesuksesan semu (dia tidak akan bertahan lama). Keberhasilan semacam ini adalah semacam topeng indah yang membalut kebusukan. Topeng ini akan tampak indah dipandang oleh semua mata secara fisik, tetapi kebusukan didalamnya tidak mudah diketahui.
Paradigma semacam ini telah menjadi trend, kebaikan-kebaikan ditonjolkan dengan berlebihan, proses kesedihan ditonjolkan dengan ekspresi yang over. Tampaknya dalam sinetronpun hal semacam ini digambarkan dengan jelas. Apa yang diucapkan dimulut serasa manis, tetapi didalam hatinya tertulis dendam kesumat yang membara. Nilai-nilai semacam ini diobral dengan bebas dan mampu menggiring pemirsa untuk larut didalamnya. Ikut merasakan gelora emosinya. akhirnya nilai hakiki sebuah ketulusan dan perjuangan banyak dianalogkan dengan kegiatan fisik belaka.

Hal semacam ini juga bisa diilustrasikan dalam contoh problem solving. Dalam problem solving ada 2 macam, yang pertama adalah problem solving terhadap masalah yang sudah terjadi dan kedua adalah problem solving untuk mengantisipasi agar masalah tidak terjadi. Dari keduanya, memiliki filosofi seperti sebuah pohon. Jika sebuah pohon diumpamakan sebagai sumber problem (masalah) karena daunnya selalu rontok dan mengotori permukaan tanah disekitarnya. Ada beberapa cara agar pohon ini segera hilang (problem solve), yang pertama adalah memangkas daun pada pohon tersebut problem solve, tidak ada lagi daun yang rontok dan mengotori permukaan tanah. tetapi selang beberapa hari daun tumbuh kembali, dan selanjutnya bisa ditebak ! masalah daun rontok terulang kembali. Kita juga bisa memotong ranting dan dahan, hasilnya pohon kelihatan tinggal batang utamanya saja tanpa daun di atasnya, problem solve, tidak ada lagi daun rontok. Dua pendekatan ini adalah pendekatan fisik semata (pemecahan problem secara instan dan bisa dilihat secara fisik siapa yang melakukannya). Kebanyakan mereka mendapatkan penghargaan atas usahanya tersebut. Tetapi mereka lupa problem hanya secara temporer solve, kelak problem yang sama akan terulang kembali.

Disisi lain, seorang yang bekerja dibawah tanah, membuat akar pohon tersebut berhenti berkembang (mematikan fungsi akar, sementara membiarkan dahan, ranting, dan daun tetap exist). Cara ini biasanya perlu waktu untuk bisa memberikan hasilnya. Kebanyakan orang, menyatakan orang yang mengambil cara ini adalah orang yang gagal dalam proses problem solving karena hasilnya tidak bisa dilihat secara langsung.
Tetapi dengan berjalannya waktu, pohon tidak mendapatkan asupan makanan dan perlahan-lahan kering dan akhirnya mati. Sehingga tidak mampu lagi menghasilkan daun selama-lamanya. Inilah problem solving sejati. Inilah ketulusan dan perjuangan sejati, tidak memberikan dampak langsung, dampaknya perlahan tetapi permanen !

(pesona ottawa, 12.56 am, 5 Januari 2010).
"Jika hamba-Ku berniat melakukan kebaikan dan ia tidak mengerjakannya, Aku menulis baginya satu kebaikan. Jika ia mengerjakannya, Aku menulis sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat untuknya. Dan jika ia berniat melakukan kejelekan dan ia tidak melakukannya Aku tidak menulis kejahatan baginya, dan jika ia melakukannya Aku menulis satu kejahatan baginya." [HR. Muslim]