Dalam setiap training terkait topik management atau leadership yang saya bawakan atau pas kebetulan mendapat kesempatan mengikuti training, beberapa pertanyaan yang relative sama selalu muncul disampaikan peserta. Pertanyaan tersebut sangat relevan dengan judul yang ingin saya kupas pada kesempatan kali ini. Bagaimanakah caranya agar kita bisa mendapatkan kesempatan untuk promosi? Bagaimana caranya kita bisa manager dalam waktu cepat? Bagaimana caranya agar saya bisa menjadi pemimpin di departemen dimana saya bekerja saat ini?
Pertanyaan-pertanyaan sejenis di atas bervariasi, tetapi pada intinya adalah sama, bagaimana saya bisa berada diposisi tertinggi didepartemen? Divisi? Atau Organisasi?
Setiap individu yang bekerja atau aktif dalam sebuah organisasi baik bisnis maupun non bisnis (bisa juga dibidang politik), pastilah memimpikan untuk bisa menjadi pemimpin. Meskipun tidak menjadi yang tertinggi, paling tidak bisa memiliki beberapa anak buah, sehingga dia merasa bangga atas posisinya tersebut. Tetapi tidak sedikit pula mereka yang tidak memiliki ambisi atau keinginan untuk menjadi pemimpin. Bagi kelompok ini bekerja menjadi bagian dari team sudah membuatnya puas.
Kita coba fokus pada kelompok pertama, dimana mereka menginginkan untuk bisa terus menanjak jenjang karirnya. Dalam prosesnya banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan posisi ini. Ada yang memilih cara yang baik, dan ada pula yang menggunakan trik-trik tertentu agar bisa mendapatkan keinginan pribadinya. Dalam tulisan saya terdahulu (tahun 2009), saya sempat mengupas perbedaan tentang Character dengan Personality.
Seorang pemimpin ada yang Genuine (orisinal) dan ada yang dipoles dengan topeng lain. Dilapangan mungkin saja kita kesuliltan membedakan kedua hal ini. Tetapi beberapa orang yang telah berpengalaman, akan sangat mudah melihat kedua perbedaan ini.
Seseorang yang memiliki ambisi positif untuk menjadi pemimpin, akan terus berjuang agar apapun yang diberikan kepadanya sebagai tugas atau kewajibannya, selalu diselesaikan dengan baik dan penuh dedikasi. Kelompok ini akan selalu mementingkan keberhasilan secara bersama, memberikan manfaat kepada sesama rekan kerjanya, melindungi organisasi atau perusahaan dimana dia bekerja dengan dedikasi penuh yang ikhlas. Bagi kelompok ini, take and give adalah sebuah harmoni yang begitu indah yang tidak layak untuk dinodai. Take and give yang dimaksud adalah dimanapun mereka bekerja mereka mendapat fasilitas, gaji, perlindungan dari perusahaan. Disamping itu mereka menerima kewajiban (amanah pekerjaan) yang harus mereka selesaikan agar perusahaan bisa mencapai tujuannya. Termasuk dalam kelompok ini adalah organisasi/perusahaan yang dengan sungguh-sungguh menjalankan kegiatannya dengan tetap bertanggung jawab pada lingkungan sekitarnya (good citizen). Keberadaan organisasi/perusahaan memberikan manfaat nyata bagi kemakmuran, kemajuan, kesejahteraan dan bahkan keseimbangan pada alam sekitarnya.
Disisi yang berbeda kita coba tengok kelompok yang memiliki ambisi tetapi melakukannya dengan cara yang negatif. Kelompok ini memiliki ciri khas yang bisa dilihat nyata. Mementingkan kelompok, mementingkan golongan, mementingkan pribadi. Dan tidak sedikit yang mengorbankan rekannya agar dia memperoleh apa yang diinginkannya. Kelompok ini akan menggunakan seluruh potensi baik yang positif dan yang negatif, mereka sangat licik dan cenderung agresif. Tidak jarang pula disertai dengan pendekatan kepada atasan yang berlebihan. Kelompok ini sangat antusias untuk membuat atasannya merasa senang dengan apapun yang dia kerjakan. Keinginan untuk membuat atasan senang bukanlah tanpa maksud, tetapi tidak lain agar dia segera mendapatkan kepercayaan yang dia inginkan.
Melihat dua kelompok yang kontras di atas, mari kita kembalikan pada hakekat hidup. Alam diciptakan dalam keadaan seimbang. Jika terjadi gangguan atau pergeseran, maka alam akan mencari kesemibangan baru. Proses menuju keseimbangan ini terkadang disertai bencana yang memilukan dan banyak memakan korban. Demikianlah sebuah hukum yang sudah dibuat (Sunnatulah). Kehidupan dialam ini haruslah dalam balutan harmoni yang indah, mahluk hidup dan lingkungan bersinergi membuat bentuk kehidupan menjadi lebih baik. Manusia satu dengan manusia yang lain saling mambantu, menyayangi, melindungi, menghormati, memberitahu kepada yang belum tahu, mendidik agar menjadi santun dan seterusnya. Demikian dengan setiap pekerjaan yang kita lakukan. Harusnya pekerjaan tersebut harus memberikan kebaikan. Kita mengerjakan setiap pekerjaan bukan berfokus pada orang lain agar merasa senang. Tetapi lebih berfokus pada bagaimana seharusnya pekerjaan itu diselesaikan dengan sebaik-baiknya tanpa embel-embel agar atasan kita senang atau agar kita tidak dimarahi oleh atasan.
Jika kita melakukan sebuah pekerjaan hanya karena takut dimarahi atau ditegur oleh atasan, maka sebenarnya kita tidak memahami hakekat hidup, seperti yang saya ilustrasikan pada paragraph sebelumnya. Kerjakanlah setiap tugas yang diberikan sesuai dengan yang seharusnya, tidak perlu khawatir apakah atasan mengawasi atau tidak, jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh dan dikerjakan dengan benar maka kita akan mendapatkan semuanya. Pekerjaan menjadi selesai, orang yang melanjutkan langkah berikutnya dari hasil kerja kita menjadi senang dan puas, atasan akan ikut merasa senang. Janganlah mengerjakan sebuah tugas hanya jika anda diawasi atau karena takut atas teguran. Itu artinya anda tidak paham makna dari pekerjaan anda.
Pekerjaan adalah sebuah pengabdian dan pelayanan, jika anda lakukan secara orisinal dan tulus, pengabdian dan pelayanan anda tidak akan pernah sia-sia. Dan jangan lupa untuk selalu memahami pekerjaan yang diberikan kepada anda. Memahami pekerjaan adalah mengerti “mengapa” pekerjaan itu harus ada dan dikerjaan demikian? Bukan hanya hafal langkah-langkahnya. Kebanyakan jika anda hafal saja, suatu saat anda akan melakukan kekeliruan. Mereka yang mengabdikan dan memberikan pelayanan pekerjaannya dengan baik dan sempurna, akan mendapatkan kesempatan berikutnya dengan jenjang lebih tinggi. Setiap jenjang yang diperoleh dengan prinsip pengabdian dan pelayanan ini akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas. Pemimpin yang akan selalu memberikan perlindungan, mengedepankan kepentingan yang lebih besar, membuat pengikut-pengikutnya memiliki hidup yang lebih baik dan lebih makmur sejahtera. Membawa perusahaan yang dia pimpim menjadi yang terdepan dan terbesar. Pemimpin orisinal, humble (sederhan tetapi berisi), tetap santun, tidak angkuh atas jabatannya. Baginya jabatan sebagai pemimpin bukanlah karir yang bisa dibanggakan. Tetapi menjadi pemimpin adalah sebuah tanggung jawab, pengabdian dan pelayanan.
Apakah anda masih memiliki ambisi menjadi pemimpin untuk kepentingan kelompok atau diri anda sendiri? Ataukah anda siap untuk bertanggung jawab, mengabdi dan melayani? Pilihan ada pada diri anda.
Manyar Tompotika Surabaya, Sabtu, 22 Januari 2011, 17.43 wib.
About Me
- AFz
- Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
- Menggapai cita-cita bagaikan membajak sawah, menabur benih padi, mengatur pengairan, memelihara padi yang mulai tumbuh, memberi pupuk, melindunginya dari serangan hama penyakit, menengoknya setiap hari, merawat bagian yang sakit dan mengaturnya agar serasi, kesemuanya itu membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Tidak ada jalan pintas untuk dapat memanen tanpa melalui tahapan-tahapan yang disebut di atas.
Saturday, January 22, 2011
Thursday, January 20, 2011
Planning Organizing Actuating Controlling (POAC)
4 poin yang sederhana tapi lugas dan tegas menunjukkan pentingnya peranan yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin. Jika seorang pemimpin tidak melakukan keempat poin di atas, sama halnya dia tidak menjalankan fungsinya.
Setiap aktivitas butuh perencanaan, tidak akan berjalan lancar sebuah kegiatan tanpa perencanaan. Jika ada yang bilang sangat sulit untuk melakukan prediksi atas apa yang akan terjadi dalam bisnis, memang ada benarnya. Tetapi dengan latihan dan praktek berulang kali, maka perencanaan akan sebuah kegiatan menjadi semakin akurat. Pada suatu hari seseorang menyampaikan problemnya kepada saya, kebetulan orang ini bekerja di FMCG di departemen physical logistic. Dia menyampaikan fakta bahwa untuk merencanakan produk-produk yang akan didespatch keesokan harinya, dia telah mencoba untuk mempersiapkan. Tetapi sangat sering terjadi bahwa apa yang dia siapkan dan/atau dijanjikan oleh rekannya di sales/marketing tidak menjadi kenyataan. Dengan kata lain variasi perbedaannya sangat besar, mengakibatkan frustasi yang luar biasa.
Saya menanyakan kepadanya beberapa hal dasar:
1. Apakah system informasi tentang rencana kedatangan kendaraan dia terima lebih awal?
2. Apakah setiap kendaraan yang datang membawa surat perintah pengambilan dengan nomor order yang jelas?
3. Apakah ada system harian/mingguan/bulanan atas rencana dispatch?
4. Bagaimana mekanisme order processingnya?
5. Mekanisme transportation dan fleet managemennya?
6. Dan seterusnya. Dan seterusnya.
Ternyata, dia tidak bisa menjawab dengan baik, dan menyangsikan apakah system tersebut ada atau sudah terstruktur rapi demikian. Setelah tahu akan hal ini, saya sampaikan kepadanya wajar saja kalau anda tidak bisa membuat planning yang baik.
Jika beberapa pertanyaan di atas tidak ada jawabnya atau dengan kata lain organisasi belum ada secara terstruktur (integrated), tetapi itu semua bukanlah akhir dari segalanya. Masih ada jalan lain yang tetap bisa dijadikan pedoman untuk membuat perencanaan kerja.
Masih ada data histori yang bisa dijadikan sebagai pedoman, meskipun akurasi dari hal tersebut tidaklah optimal. Tetapi paling tidak bisa membantu menjadikan kegiatan dispatch menjadi lebih baik. Semua produk yang diperlukan sesuai data histori, disiapkan pada lokasi dispatch, sehingga pelayanan pemuatan menjadi lancar. Cycle Time performance merupakan salah satu indikator vital dalam kegiatan logistic. Dalam kasus di atas, Cycle Time ditempat dia bekerja sangatlah buruk. Dan ini terus berlanjut dan berlanjut.
Setelah perencanaan disiapkan, tiba gilirannya untuk mengatur organisasinya. Siapa mengerjakan apa (who is going to do what). Pengaturan ini merupakan strategi yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin. Tidak bisa dibayangkan, bahwa jajaran operasional yang akan menjalankan kegiatan tersebut tidak diorganisasikan dengan baik. Mereka akan berjalan sendiri-sendiri dengan caranya masing-masing yang tentu saja akan fokus pada kepentingan mereka sendiri. Akibatnya benturan kepentingan akan terjadi dan sebagai dampak besarnya adalah bisnis secara keseluruhan akan jadi korbannya. Mengatur organisasi (organizing) adalah suatu kegiatan pokok, dimana scenario dibuat dengan detil, script dijelaskan secara jelas dan lugas, personel disiapkan sesuai dengan peran masing-masing. Sukses tidaknya kegiatan yang ditargetkan akan sangat tergantung pula pada step ini.
Actuating, bisa diibaratkan penekanan tombol sebagai tanda dimulainya kegiatan. Setiap komponen yang ada termasuk personel, melakukan kegiatan tahap demi tahap sesuai script yang sudah disiapkan dalam step sebelumnya. Dalam proses actuating ini, peran pemimpin menjadi seperti seorang Dirigent dari kegiatan Musikal. Dia akan memerintahkan alat music mana yang harus dimainkan dengan intonasi tertentu sehingga menjadi harmoni yang indah untuk didengar. Begitu juga dengan kegiatan fisik organisasi baik bisnis maupun non bisnis, seorang pemimpin pada tahapan actuating ini, harus mampu menunjukkan kemampuannya dalam menggerakkan mata rantai yang sudah diorganisasikan sebelumnya. Memastikan harmoninya agar setiap langkah menjadi lancar dan sesuai target.
Jika semua aktivitas sudah berjalan sesuai dengan yang diatur dalam 3 step sebelumnya (Planning, Organizing, Actuating), maka langkah terakhir tidak boleh dilupakan. Langkah ini ibarat Pit Stop pada balapan F1, dia melakukan control atau cek apakah semua kegiatan mengikuti rel yang sudah ada ataukah keluar dari rel yang ada. Kontrol atau pengawasan, merupakan competency vital bagi seorang pemimpin. Kemampun mengontrol inilah yang nantinya membawa keseluruhan team mencapai tujuan akhir dari target yang ingin dicapai. Disetiap pit stop, setiap bagian komponen dicek, direfill (isi ulang). Jika ditemukan ada sesuatu yang tidak sesuai segera dilakukan penyesuaian dan koreksi, agar penyimpangan tidak semakin jauh.
Sekali lagi POAC, meski ini terkesan sederhana, tetapi powerful jika dilaksanakan dengan baik dan benar.
Pesona Ottawa, 20 januari 2011, 22.41 wib
Setiap aktivitas butuh perencanaan, tidak akan berjalan lancar sebuah kegiatan tanpa perencanaan. Jika ada yang bilang sangat sulit untuk melakukan prediksi atas apa yang akan terjadi dalam bisnis, memang ada benarnya. Tetapi dengan latihan dan praktek berulang kali, maka perencanaan akan sebuah kegiatan menjadi semakin akurat. Pada suatu hari seseorang menyampaikan problemnya kepada saya, kebetulan orang ini bekerja di FMCG di departemen physical logistic. Dia menyampaikan fakta bahwa untuk merencanakan produk-produk yang akan didespatch keesokan harinya, dia telah mencoba untuk mempersiapkan. Tetapi sangat sering terjadi bahwa apa yang dia siapkan dan/atau dijanjikan oleh rekannya di sales/marketing tidak menjadi kenyataan. Dengan kata lain variasi perbedaannya sangat besar, mengakibatkan frustasi yang luar biasa.
Saya menanyakan kepadanya beberapa hal dasar:
1. Apakah system informasi tentang rencana kedatangan kendaraan dia terima lebih awal?
2. Apakah setiap kendaraan yang datang membawa surat perintah pengambilan dengan nomor order yang jelas?
3. Apakah ada system harian/mingguan/bulanan atas rencana dispatch?
4. Bagaimana mekanisme order processingnya?
5. Mekanisme transportation dan fleet managemennya?
6. Dan seterusnya. Dan seterusnya.
Ternyata, dia tidak bisa menjawab dengan baik, dan menyangsikan apakah system tersebut ada atau sudah terstruktur rapi demikian. Setelah tahu akan hal ini, saya sampaikan kepadanya wajar saja kalau anda tidak bisa membuat planning yang baik.
Jika beberapa pertanyaan di atas tidak ada jawabnya atau dengan kata lain organisasi belum ada secara terstruktur (integrated), tetapi itu semua bukanlah akhir dari segalanya. Masih ada jalan lain yang tetap bisa dijadikan pedoman untuk membuat perencanaan kerja.
Masih ada data histori yang bisa dijadikan sebagai pedoman, meskipun akurasi dari hal tersebut tidaklah optimal. Tetapi paling tidak bisa membantu menjadikan kegiatan dispatch menjadi lebih baik. Semua produk yang diperlukan sesuai data histori, disiapkan pada lokasi dispatch, sehingga pelayanan pemuatan menjadi lancar. Cycle Time performance merupakan salah satu indikator vital dalam kegiatan logistic. Dalam kasus di atas, Cycle Time ditempat dia bekerja sangatlah buruk. Dan ini terus berlanjut dan berlanjut.
Setelah perencanaan disiapkan, tiba gilirannya untuk mengatur organisasinya. Siapa mengerjakan apa (who is going to do what). Pengaturan ini merupakan strategi yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin. Tidak bisa dibayangkan, bahwa jajaran operasional yang akan menjalankan kegiatan tersebut tidak diorganisasikan dengan baik. Mereka akan berjalan sendiri-sendiri dengan caranya masing-masing yang tentu saja akan fokus pada kepentingan mereka sendiri. Akibatnya benturan kepentingan akan terjadi dan sebagai dampak besarnya adalah bisnis secara keseluruhan akan jadi korbannya. Mengatur organisasi (organizing) adalah suatu kegiatan pokok, dimana scenario dibuat dengan detil, script dijelaskan secara jelas dan lugas, personel disiapkan sesuai dengan peran masing-masing. Sukses tidaknya kegiatan yang ditargetkan akan sangat tergantung pula pada step ini.
Actuating, bisa diibaratkan penekanan tombol sebagai tanda dimulainya kegiatan. Setiap komponen yang ada termasuk personel, melakukan kegiatan tahap demi tahap sesuai script yang sudah disiapkan dalam step sebelumnya. Dalam proses actuating ini, peran pemimpin menjadi seperti seorang Dirigent dari kegiatan Musikal. Dia akan memerintahkan alat music mana yang harus dimainkan dengan intonasi tertentu sehingga menjadi harmoni yang indah untuk didengar. Begitu juga dengan kegiatan fisik organisasi baik bisnis maupun non bisnis, seorang pemimpin pada tahapan actuating ini, harus mampu menunjukkan kemampuannya dalam menggerakkan mata rantai yang sudah diorganisasikan sebelumnya. Memastikan harmoninya agar setiap langkah menjadi lancar dan sesuai target.
Jika semua aktivitas sudah berjalan sesuai dengan yang diatur dalam 3 step sebelumnya (Planning, Organizing, Actuating), maka langkah terakhir tidak boleh dilupakan. Langkah ini ibarat Pit Stop pada balapan F1, dia melakukan control atau cek apakah semua kegiatan mengikuti rel yang sudah ada ataukah keluar dari rel yang ada. Kontrol atau pengawasan, merupakan competency vital bagi seorang pemimpin. Kemampun mengontrol inilah yang nantinya membawa keseluruhan team mencapai tujuan akhir dari target yang ingin dicapai. Disetiap pit stop, setiap bagian komponen dicek, direfill (isi ulang). Jika ditemukan ada sesuatu yang tidak sesuai segera dilakukan penyesuaian dan koreksi, agar penyimpangan tidak semakin jauh.
Sekali lagi POAC, meski ini terkesan sederhana, tetapi powerful jika dilaksanakan dengan baik dan benar.
Pesona Ottawa, 20 januari 2011, 22.41 wib
Wednesday, January 19, 2011
Memaknai Cobaan dan Ujian Hidup
Yang membedakan jenjang kelas disaat kita masih dibangku sekolah sejatinya hanyalah sebuah ujian yang dibuat oleh manusia lainnya. Jika kita lulus dari ujian tersebut maka dinaikanlah ke kelas yang lebih tinggi, jika tidak lulus maka kita akan tetap tinggal pada level sebelumnya.
Sementara itu, jika sedikit menengok hakekat hidup manusia, dimana manusia diciptakan oleh Sang Khalik Allah SWT. Tentu saja, setiap manusia akan berlomba untuk bisa dekat dengan Allah SWT. Kedekatan tersebut diukur dalam tingkatan Derajat Taqwa. Seseorang dikatakan tinggi Derajat Ketaqwaannya apabila yang bersangkutan dengan jelas-jelas memiliki ‘Three way match’ dalam dirinya. Apakah maksudnya? Kalau ketaqwaan seseorang diukur dari ketaatannya untuk menjalankan semua perintah Allah SWT, dan menjauhi semua larangan Allah SWT, maka ‘three way match’ ini menjadi indikatornya. Apa yang diucapkan dari mulutnya, match dengan apa yang ada dihati/pikirannya, dan match pula dengan apa yang ada dalam tindakannya. Jadi ‘three way match’ ini adalah keselarasan sejati tanpa dibuat-buat, alignmen antara 3 hal:
1. Ucapan dari lisannya
2. Rasa yang ada dalam hatinya atau fikirannya
3. Tindakan tulus yang keluar dari dirinya
Oleh sebab itu, yang tahu derajat taqwa seseorang hanyalah Allah SWT. Kita sebagai manusia mungkin hanya mampu menilai seseorang dengan ‘two way match’ saja. Dan ini tidaklah lengkap.
Untuk mencapai derajat Taqwa, tidaklah semudah yang diharapkan oleh setiap orang. Ujian demi Ujian diberikan tanpa permintaan ijin kepada manusia tersebut, sadar atau tidak, suka atau tidak, mampu atau tidak, itu semua tidaklah menjadi soal. Yang pasti disaat ujian tersebut benar-benar diberikan, tanpa disadari reaksi yang timbul sangat beragam, sekali lagi ‘three way match’ akan membuktikan bahwa seseorang memiliki derajat Taqwa yang tinggi atau medium atau rendah.
Mereka yang lulus Ujian yang diberikan Allah SWT, akan menerima kenaikan derajat Taqwa satu tingkat lebih tinggi. Tetapi mereka yang tidak lulus akan tetap pada posisinya. Manusia hidup tidak akan pernah luput dari masalah. Hakekatnya masalah-masalah yang dibebankan kepada manusia ini akan membuatnya menjadi lebih baik, tumbuh dan berkembang menjadi lebih tangguh dari sebelumnya. Masalah membuat manusia menjadi dinamis dan semakin tinggi rasa bijaknya, semakin tinggi rasa toleransinya, semakin tinggi rasa hormatnya, semakin tinggi rasa santunnya, dan semakin banyak hal-hal positif lainnya yang dia bisa tingkatkan. Hal ini hanya mungkin terjadi bila manusia tersebut mampu memaknai datangnya masalah tersebut sebagai ujian Allah SWT, dan dengan ikhlas tawakkal dalam menghadapinya dan patuh serta tunduk sepenuhnya pada Qada dan Qadar Allah SWT setelah melalui masa ikhtiarnya.
Tetapi jika manusia tersebut, menganggap masalah sebagai hal yang negatif, dan menerimanya dengan sumpah serapah, menyalahkan Allah SWT dengan mengatas namakan ketidak adilan, menunjuk orang lain sebagai biang keladinya, tidak bisa menerima cobaan tersebut, maka nilai manusia tersebut akan semakin terpuruk dan terseret pada derajat yang lebih rendah lagi.
Ujian memang beragam, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Setiap orang akan secara relatif memiliki kemampuan menilai cobaan atau ujiannya sebagai yang ringan atau yang berat. Misalnya, seorang petinju kelas berat, akan sangat mudah menghadapi petinju kelas ringan, karena levelnya sudah jauh di atas bobot ujian yang dihadapinya. Misalnya lagi, jika kita mengangkat tangan kita saja tanpa beban apapun, sejenak kita akan menganggapnya sebagai hal remeh dan mudah dilakukan. Tetapi akan lain ceritanya jika kita disuruh mengangkat tangan kita lurus dalam waktu 2 atau 3 jam, atau setengah hari, apa yang kita rasakan. Beban yang ringan tadi akan menjadi berat. Jadi makna ujian atau cobaan memang relatif sifatnya. Oleh sebab itu kesabaran dan keikhlasan diperlukan untuk memenangkan setiap cobaan dan ujian yang ditimpakan kepada kita.
Dengan semakin diuji, kita bisa maknai hal tersebut bahwa Allah SWT semakin mencintai kita, semakin ingin membawa kita lebih dekat dengan Allah SWT. Satu hal penting, Allah SWT tidak akan memberikan beban cobaan dan ujian melebihi kapasitas yang bisa kita hadapi dan selesaikan.
Pesona Ottawa, 19 Januari 2011, 11:31pm
Sementara itu, jika sedikit menengok hakekat hidup manusia, dimana manusia diciptakan oleh Sang Khalik Allah SWT. Tentu saja, setiap manusia akan berlomba untuk bisa dekat dengan Allah SWT. Kedekatan tersebut diukur dalam tingkatan Derajat Taqwa. Seseorang dikatakan tinggi Derajat Ketaqwaannya apabila yang bersangkutan dengan jelas-jelas memiliki ‘Three way match’ dalam dirinya. Apakah maksudnya? Kalau ketaqwaan seseorang diukur dari ketaatannya untuk menjalankan semua perintah Allah SWT, dan menjauhi semua larangan Allah SWT, maka ‘three way match’ ini menjadi indikatornya. Apa yang diucapkan dari mulutnya, match dengan apa yang ada dihati/pikirannya, dan match pula dengan apa yang ada dalam tindakannya. Jadi ‘three way match’ ini adalah keselarasan sejati tanpa dibuat-buat, alignmen antara 3 hal:
1. Ucapan dari lisannya
2. Rasa yang ada dalam hatinya atau fikirannya
3. Tindakan tulus yang keluar dari dirinya
Oleh sebab itu, yang tahu derajat taqwa seseorang hanyalah Allah SWT. Kita sebagai manusia mungkin hanya mampu menilai seseorang dengan ‘two way match’ saja. Dan ini tidaklah lengkap.
Untuk mencapai derajat Taqwa, tidaklah semudah yang diharapkan oleh setiap orang. Ujian demi Ujian diberikan tanpa permintaan ijin kepada manusia tersebut, sadar atau tidak, suka atau tidak, mampu atau tidak, itu semua tidaklah menjadi soal. Yang pasti disaat ujian tersebut benar-benar diberikan, tanpa disadari reaksi yang timbul sangat beragam, sekali lagi ‘three way match’ akan membuktikan bahwa seseorang memiliki derajat Taqwa yang tinggi atau medium atau rendah.
Mereka yang lulus Ujian yang diberikan Allah SWT, akan menerima kenaikan derajat Taqwa satu tingkat lebih tinggi. Tetapi mereka yang tidak lulus akan tetap pada posisinya. Manusia hidup tidak akan pernah luput dari masalah. Hakekatnya masalah-masalah yang dibebankan kepada manusia ini akan membuatnya menjadi lebih baik, tumbuh dan berkembang menjadi lebih tangguh dari sebelumnya. Masalah membuat manusia menjadi dinamis dan semakin tinggi rasa bijaknya, semakin tinggi rasa toleransinya, semakin tinggi rasa hormatnya, semakin tinggi rasa santunnya, dan semakin banyak hal-hal positif lainnya yang dia bisa tingkatkan. Hal ini hanya mungkin terjadi bila manusia tersebut mampu memaknai datangnya masalah tersebut sebagai ujian Allah SWT, dan dengan ikhlas tawakkal dalam menghadapinya dan patuh serta tunduk sepenuhnya pada Qada dan Qadar Allah SWT setelah melalui masa ikhtiarnya.
Tetapi jika manusia tersebut, menganggap masalah sebagai hal yang negatif, dan menerimanya dengan sumpah serapah, menyalahkan Allah SWT dengan mengatas namakan ketidak adilan, menunjuk orang lain sebagai biang keladinya, tidak bisa menerima cobaan tersebut, maka nilai manusia tersebut akan semakin terpuruk dan terseret pada derajat yang lebih rendah lagi.
Ujian memang beragam, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Setiap orang akan secara relatif memiliki kemampuan menilai cobaan atau ujiannya sebagai yang ringan atau yang berat. Misalnya, seorang petinju kelas berat, akan sangat mudah menghadapi petinju kelas ringan, karena levelnya sudah jauh di atas bobot ujian yang dihadapinya. Misalnya lagi, jika kita mengangkat tangan kita saja tanpa beban apapun, sejenak kita akan menganggapnya sebagai hal remeh dan mudah dilakukan. Tetapi akan lain ceritanya jika kita disuruh mengangkat tangan kita lurus dalam waktu 2 atau 3 jam, atau setengah hari, apa yang kita rasakan. Beban yang ringan tadi akan menjadi berat. Jadi makna ujian atau cobaan memang relatif sifatnya. Oleh sebab itu kesabaran dan keikhlasan diperlukan untuk memenangkan setiap cobaan dan ujian yang ditimpakan kepada kita.
Dengan semakin diuji, kita bisa maknai hal tersebut bahwa Allah SWT semakin mencintai kita, semakin ingin membawa kita lebih dekat dengan Allah SWT. Satu hal penting, Allah SWT tidak akan memberikan beban cobaan dan ujian melebihi kapasitas yang bisa kita hadapi dan selesaikan.
Pesona Ottawa, 19 Januari 2011, 11:31pm
Subscribe to:
Comments (Atom)