About Me

My photo
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Menggapai cita-cita bagaikan membajak sawah, menabur benih padi, mengatur pengairan, memelihara padi yang mulai tumbuh, memberi pupuk, melindunginya dari serangan hama penyakit, menengoknya setiap hari, merawat bagian yang sakit dan mengaturnya agar serasi, kesemuanya itu membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Tidak ada jalan pintas untuk dapat memanen tanpa melalui tahapan-tahapan yang disebut di atas.

Wednesday, January 19, 2011

Memaknai Cobaan dan Ujian Hidup

Yang membedakan jenjang kelas disaat kita masih dibangku sekolah sejatinya hanyalah sebuah ujian yang dibuat oleh manusia lainnya. Jika kita lulus dari ujian tersebut maka dinaikanlah ke kelas yang lebih tinggi, jika tidak lulus maka kita akan tetap tinggal pada level sebelumnya.
Sementara itu, jika sedikit menengok hakekat hidup manusia, dimana manusia diciptakan oleh Sang Khalik Allah SWT. Tentu saja, setiap manusia akan berlomba untuk bisa dekat dengan Allah SWT. Kedekatan tersebut diukur dalam tingkatan Derajat Taqwa. Seseorang dikatakan tinggi Derajat Ketaqwaannya apabila yang bersangkutan dengan jelas-jelas memiliki ‘Three way match’ dalam dirinya. Apakah maksudnya? Kalau ketaqwaan seseorang diukur dari ketaatannya untuk menjalankan semua perintah Allah SWT, dan menjauhi semua larangan Allah SWT, maka ‘three way match’ ini menjadi indikatornya. Apa yang diucapkan dari mulutnya, match dengan apa yang ada dihati/pikirannya, dan match pula dengan apa yang ada dalam tindakannya. Jadi ‘three way match’ ini adalah keselarasan sejati tanpa dibuat-buat, alignmen antara 3 hal:
1. Ucapan dari lisannya
2. Rasa yang ada dalam hatinya atau fikirannya
3. Tindakan tulus yang keluar dari dirinya
Oleh sebab itu, yang tahu derajat taqwa seseorang hanyalah Allah SWT. Kita sebagai manusia mungkin hanya mampu menilai seseorang dengan ‘two way match’ saja. Dan ini tidaklah lengkap.
Untuk mencapai derajat Taqwa, tidaklah semudah yang diharapkan oleh setiap orang. Ujian demi Ujian diberikan tanpa permintaan ijin kepada manusia tersebut, sadar atau tidak, suka atau tidak, mampu atau tidak, itu semua tidaklah menjadi soal. Yang pasti disaat ujian tersebut benar-benar diberikan, tanpa disadari reaksi yang timbul sangat beragam, sekali lagi ‘three way match’ akan membuktikan bahwa seseorang memiliki derajat Taqwa yang tinggi atau medium atau rendah.
Mereka yang lulus Ujian yang diberikan Allah SWT, akan menerima kenaikan derajat Taqwa satu tingkat lebih tinggi. Tetapi mereka yang tidak lulus akan tetap pada posisinya. Manusia hidup tidak akan pernah luput dari masalah. Hakekatnya masalah-masalah yang dibebankan kepada manusia ini akan membuatnya menjadi lebih baik, tumbuh dan berkembang menjadi lebih tangguh dari sebelumnya. Masalah membuat manusia menjadi dinamis dan semakin tinggi rasa bijaknya, semakin tinggi rasa toleransinya, semakin tinggi rasa hormatnya, semakin tinggi rasa santunnya, dan semakin banyak hal-hal positif lainnya yang dia bisa tingkatkan. Hal ini hanya mungkin terjadi bila manusia tersebut mampu memaknai datangnya masalah tersebut sebagai ujian Allah SWT, dan dengan ikhlas tawakkal dalam menghadapinya dan patuh serta tunduk sepenuhnya pada Qada dan Qadar Allah SWT setelah melalui masa ikhtiarnya.
Tetapi jika manusia tersebut, menganggap masalah sebagai hal yang negatif, dan menerimanya dengan sumpah serapah, menyalahkan Allah SWT dengan mengatas namakan ketidak adilan, menunjuk orang lain sebagai biang keladinya, tidak bisa menerima cobaan tersebut, maka nilai manusia tersebut akan semakin terpuruk dan terseret pada derajat yang lebih rendah lagi.
Ujian memang beragam, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Setiap orang akan secara relatif memiliki kemampuan menilai cobaan atau ujiannya sebagai yang ringan atau yang berat. Misalnya, seorang petinju kelas berat, akan sangat mudah menghadapi petinju kelas ringan, karena levelnya sudah jauh di atas bobot ujian yang dihadapinya. Misalnya lagi, jika kita mengangkat tangan kita saja tanpa beban apapun, sejenak kita akan menganggapnya sebagai hal remeh dan mudah dilakukan. Tetapi akan lain ceritanya jika kita disuruh mengangkat tangan kita lurus dalam waktu 2 atau 3 jam, atau setengah hari, apa yang kita rasakan. Beban yang ringan tadi akan menjadi berat. Jadi makna ujian atau cobaan memang relatif sifatnya. Oleh sebab itu kesabaran dan keikhlasan diperlukan untuk memenangkan setiap cobaan dan ujian yang ditimpakan kepada kita.
Dengan semakin diuji, kita bisa maknai hal tersebut bahwa Allah SWT semakin mencintai kita, semakin ingin membawa kita lebih dekat dengan Allah SWT. Satu hal penting, Allah SWT tidak akan memberikan beban cobaan dan ujian melebihi kapasitas yang bisa kita hadapi dan selesaikan.

Pesona Ottawa, 19 Januari 2011, 11:31pm

Monday, October 4, 2010

Sebuah Renungan


Minggu pagi 3 Oktober udara sangat cerah, setelah bersiap-siap sejenak tiba saatnya meluncur di pojok McD Cibubur. Sambil menunggu teman datang, aku memesan 1 paket menu untuk sarapan. Sudah sangat lama tidak makan fast food, tetapi lumayanlah untuk mengisi sarapan pagiku. Tak beberapa lama, 2 sahabatku datang. Hari ini kita akan mengunjungi seorang teman lama yang 24 tahun lebih kita belum pernah bertemu, yaitu sejak pelepasan SMA. Sebelum menuju lokasi, bertiga kita meluncur ke Botani Square di bogor, dimana kita janjian untuk ketemu dengan seorang teman yang lainnya yang juga ingin gabung berkunjung.

Sebenarnya sudah cukup lama kita ingin berkunjung untuk menengok keadaannya. Kita mendapatkan kabar bahwa dia mendapatkan cobaan berupa stroke yang mengakibatkan hilangnya kemampuan untuk berbicara, dan disertai bagian kaki kirinya agak sulit untuk digerakkan. Rupanya hari minggu ini merupakan hari yang telah digariskan Allah SWT untuk aku dan teman-temanku bisa datang kerumah sahabatku yang sakit ini.

Di dalam perjalanan muncul ide untuk kontak sahabat yang lainnya guna mengumpulkan dana yang barangkali bisa kita berikan pada sahabatku yang sedang sakit ini. Alhamdullilah teman-teman yang kita kontak secara spontan mau menyisihkan sebagian rejekinya. Aku bersyukur memiliki sahabat yang masih solid dan perhatian kepada sahabatnya yang lain yang sedang membutuhkan.

Setelah bertanya beberapa kali akhirnya kita menemukan rumah sahabat yang sakit ini. Saat memasuki rumahnya, sahabatku ini berdiri menyongsong kami, meski terlihat tegap, dengan fisik yang tidak banyak berubah dengan mudah kita mengenalinya. Meskipun demikian sahabatku ini baru ingat setelah kita menyebutkan nama masing-masing. Dari kondisi fisiknya tampak bahwa dirinya kurang begitu sehat. Apalagi setelah mencoba membuka pembicaraan, terlihat jelas sahabatku ini kesulitan untuk menyampaikan isi pikirannya melalui ucapan. Ada beberapa kalimat yang dia mampu ucapkan dan banyak pula yang dia tidak bisa ucapkan. Disisi lain kami berempat prihatin melihat kondisi rumahnya. Dengan ukuran yang sangat sederhana. Ketika kami bertanya apakah bisa menulis, dia menggelengkan kepalanya, meski kedua tangannya bisa bergerak bebas, tetapi kemampuan menulisnya juga hilang. Sungguh trenyuh hati kami melihat sahabatku ini.

Kami berempat teringat masa lalu, dimana sahabatku ini adalah termasuk pelajar yang cerdas dan energik. Gurauan gurauannya sangat segar dan menghibur. Tetapi setelah 24 tahun kita bertemu lagi dengan suasana yang sungguh berbeda. Sahabatku ini ini tinggal di desa bertiga dengan istri dan anaknya yang baru duduk dikelas 4 SD. Kami mencoba mengajak bicara mengingat masa lalu, ada beberapa hal yang membuatnya tertawa senang dan ada saat sahabatku untuk menangis lepas. Cobaan yang dia hadapi sangat berat. Dikala anaknya yang masih memerlukan banyak dukungan materi dan kasih sayang, sahabatku ini kehilangan sebagian kemampuannya untuk melakukan tugasnya sebagai seorang bapak secara utuh. Kami berempat saling berpandangan, tidak terpikir oleh kami bahwa sedemikian majemuknya Qada dan Qadar Allah SWT terhadap umatnya.

Sahabatku, semoga cepat sembuh dan kembali sehat seperti sedia kala. Amin yaa Rabbal Alamin.

Ya Allah SWT sungguh kami ini termasuk orang-orang yang sering lupa untuk bersyukur. Yang ada hanyalah keluhan dengan daftar yang panjang. Terkadang kita lupa bahwa kesehatan adalah salah satu karunia Allah SWT yang sangat besar dan mewah. Tetapi kita masih sering meminta dalam setiap do'a kita dengan permintaan yang bermacam-macam. Tidak jarang kita mengeluh kenapa do'a kita tidak dikabulkan. Kita selalu menuntut agar Allah SWT memenuhi apapun yang kita inginkan. Kita lupa bahwa Allah SWT akan selalu memberikan apa yang kita perlukan dan bukan apa yang kita inginkan.
"Jika hamba-Ku berniat melakukan kebaikan dan ia tidak mengerjakannya, Aku menulis baginya satu kebaikan. Jika ia mengerjakannya, Aku menulis sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat untuknya. Dan jika ia berniat melakukan kejelekan dan ia tidak melakukannya Aku tidak menulis kejahatan baginya, dan jika ia melakukannya Aku menulis satu kejahatan baginya." [HR. Muslim]