4 poin yang sederhana tapi lugas dan tegas menunjukkan pentingnya peranan yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin. Jika seorang pemimpin tidak melakukan keempat poin di atas, sama halnya dia tidak menjalankan fungsinya.
Setiap aktivitas butuh perencanaan, tidak akan berjalan lancar sebuah kegiatan tanpa perencanaan. Jika ada yang bilang sangat sulit untuk melakukan prediksi atas apa yang akan terjadi dalam bisnis, memang ada benarnya. Tetapi dengan latihan dan praktek berulang kali, maka perencanaan akan sebuah kegiatan menjadi semakin akurat. Pada suatu hari seseorang menyampaikan problemnya kepada saya, kebetulan orang ini bekerja di FMCG di departemen physical logistic. Dia menyampaikan fakta bahwa untuk merencanakan produk-produk yang akan didespatch keesokan harinya, dia telah mencoba untuk mempersiapkan. Tetapi sangat sering terjadi bahwa apa yang dia siapkan dan/atau dijanjikan oleh rekannya di sales/marketing tidak menjadi kenyataan. Dengan kata lain variasi perbedaannya sangat besar, mengakibatkan frustasi yang luar biasa.
Saya menanyakan kepadanya beberapa hal dasar:
1. Apakah system informasi tentang rencana kedatangan kendaraan dia terima lebih awal?
2. Apakah setiap kendaraan yang datang membawa surat perintah pengambilan dengan nomor order yang jelas?
3. Apakah ada system harian/mingguan/bulanan atas rencana dispatch?
4. Bagaimana mekanisme order processingnya?
5. Mekanisme transportation dan fleet managemennya?
6. Dan seterusnya. Dan seterusnya.
Ternyata, dia tidak bisa menjawab dengan baik, dan menyangsikan apakah system tersebut ada atau sudah terstruktur rapi demikian. Setelah tahu akan hal ini, saya sampaikan kepadanya wajar saja kalau anda tidak bisa membuat planning yang baik.
Jika beberapa pertanyaan di atas tidak ada jawabnya atau dengan kata lain organisasi belum ada secara terstruktur (integrated), tetapi itu semua bukanlah akhir dari segalanya. Masih ada jalan lain yang tetap bisa dijadikan pedoman untuk membuat perencanaan kerja.
Masih ada data histori yang bisa dijadikan sebagai pedoman, meskipun akurasi dari hal tersebut tidaklah optimal. Tetapi paling tidak bisa membantu menjadikan kegiatan dispatch menjadi lebih baik. Semua produk yang diperlukan sesuai data histori, disiapkan pada lokasi dispatch, sehingga pelayanan pemuatan menjadi lancar. Cycle Time performance merupakan salah satu indikator vital dalam kegiatan logistic. Dalam kasus di atas, Cycle Time ditempat dia bekerja sangatlah buruk. Dan ini terus berlanjut dan berlanjut.
Setelah perencanaan disiapkan, tiba gilirannya untuk mengatur organisasinya. Siapa mengerjakan apa (who is going to do what). Pengaturan ini merupakan strategi yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin. Tidak bisa dibayangkan, bahwa jajaran operasional yang akan menjalankan kegiatan tersebut tidak diorganisasikan dengan baik. Mereka akan berjalan sendiri-sendiri dengan caranya masing-masing yang tentu saja akan fokus pada kepentingan mereka sendiri. Akibatnya benturan kepentingan akan terjadi dan sebagai dampak besarnya adalah bisnis secara keseluruhan akan jadi korbannya. Mengatur organisasi (organizing) adalah suatu kegiatan pokok, dimana scenario dibuat dengan detil, script dijelaskan secara jelas dan lugas, personel disiapkan sesuai dengan peran masing-masing. Sukses tidaknya kegiatan yang ditargetkan akan sangat tergantung pula pada step ini.
Actuating, bisa diibaratkan penekanan tombol sebagai tanda dimulainya kegiatan. Setiap komponen yang ada termasuk personel, melakukan kegiatan tahap demi tahap sesuai script yang sudah disiapkan dalam step sebelumnya. Dalam proses actuating ini, peran pemimpin menjadi seperti seorang Dirigent dari kegiatan Musikal. Dia akan memerintahkan alat music mana yang harus dimainkan dengan intonasi tertentu sehingga menjadi harmoni yang indah untuk didengar. Begitu juga dengan kegiatan fisik organisasi baik bisnis maupun non bisnis, seorang pemimpin pada tahapan actuating ini, harus mampu menunjukkan kemampuannya dalam menggerakkan mata rantai yang sudah diorganisasikan sebelumnya. Memastikan harmoninya agar setiap langkah menjadi lancar dan sesuai target.
Jika semua aktivitas sudah berjalan sesuai dengan yang diatur dalam 3 step sebelumnya (Planning, Organizing, Actuating), maka langkah terakhir tidak boleh dilupakan. Langkah ini ibarat Pit Stop pada balapan F1, dia melakukan control atau cek apakah semua kegiatan mengikuti rel yang sudah ada ataukah keluar dari rel yang ada. Kontrol atau pengawasan, merupakan competency vital bagi seorang pemimpin. Kemampun mengontrol inilah yang nantinya membawa keseluruhan team mencapai tujuan akhir dari target yang ingin dicapai. Disetiap pit stop, setiap bagian komponen dicek, direfill (isi ulang). Jika ditemukan ada sesuatu yang tidak sesuai segera dilakukan penyesuaian dan koreksi, agar penyimpangan tidak semakin jauh.
Sekali lagi POAC, meski ini terkesan sederhana, tetapi powerful jika dilaksanakan dengan baik dan benar.
Pesona Ottawa, 20 januari 2011, 22.41 wib
About Me
- AFz
- Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
- Menggapai cita-cita bagaikan membajak sawah, menabur benih padi, mengatur pengairan, memelihara padi yang mulai tumbuh, memberi pupuk, melindunginya dari serangan hama penyakit, menengoknya setiap hari, merawat bagian yang sakit dan mengaturnya agar serasi, kesemuanya itu membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Tidak ada jalan pintas untuk dapat memanen tanpa melalui tahapan-tahapan yang disebut di atas.
Thursday, January 20, 2011
Wednesday, January 19, 2011
Memaknai Cobaan dan Ujian Hidup
Yang membedakan jenjang kelas disaat kita masih dibangku sekolah sejatinya hanyalah sebuah ujian yang dibuat oleh manusia lainnya. Jika kita lulus dari ujian tersebut maka dinaikanlah ke kelas yang lebih tinggi, jika tidak lulus maka kita akan tetap tinggal pada level sebelumnya.
Sementara itu, jika sedikit menengok hakekat hidup manusia, dimana manusia diciptakan oleh Sang Khalik Allah SWT. Tentu saja, setiap manusia akan berlomba untuk bisa dekat dengan Allah SWT. Kedekatan tersebut diukur dalam tingkatan Derajat Taqwa. Seseorang dikatakan tinggi Derajat Ketaqwaannya apabila yang bersangkutan dengan jelas-jelas memiliki ‘Three way match’ dalam dirinya. Apakah maksudnya? Kalau ketaqwaan seseorang diukur dari ketaatannya untuk menjalankan semua perintah Allah SWT, dan menjauhi semua larangan Allah SWT, maka ‘three way match’ ini menjadi indikatornya. Apa yang diucapkan dari mulutnya, match dengan apa yang ada dihati/pikirannya, dan match pula dengan apa yang ada dalam tindakannya. Jadi ‘three way match’ ini adalah keselarasan sejati tanpa dibuat-buat, alignmen antara 3 hal:
1. Ucapan dari lisannya
2. Rasa yang ada dalam hatinya atau fikirannya
3. Tindakan tulus yang keluar dari dirinya
Oleh sebab itu, yang tahu derajat taqwa seseorang hanyalah Allah SWT. Kita sebagai manusia mungkin hanya mampu menilai seseorang dengan ‘two way match’ saja. Dan ini tidaklah lengkap.
Untuk mencapai derajat Taqwa, tidaklah semudah yang diharapkan oleh setiap orang. Ujian demi Ujian diberikan tanpa permintaan ijin kepada manusia tersebut, sadar atau tidak, suka atau tidak, mampu atau tidak, itu semua tidaklah menjadi soal. Yang pasti disaat ujian tersebut benar-benar diberikan, tanpa disadari reaksi yang timbul sangat beragam, sekali lagi ‘three way match’ akan membuktikan bahwa seseorang memiliki derajat Taqwa yang tinggi atau medium atau rendah.
Mereka yang lulus Ujian yang diberikan Allah SWT, akan menerima kenaikan derajat Taqwa satu tingkat lebih tinggi. Tetapi mereka yang tidak lulus akan tetap pada posisinya. Manusia hidup tidak akan pernah luput dari masalah. Hakekatnya masalah-masalah yang dibebankan kepada manusia ini akan membuatnya menjadi lebih baik, tumbuh dan berkembang menjadi lebih tangguh dari sebelumnya. Masalah membuat manusia menjadi dinamis dan semakin tinggi rasa bijaknya, semakin tinggi rasa toleransinya, semakin tinggi rasa hormatnya, semakin tinggi rasa santunnya, dan semakin banyak hal-hal positif lainnya yang dia bisa tingkatkan. Hal ini hanya mungkin terjadi bila manusia tersebut mampu memaknai datangnya masalah tersebut sebagai ujian Allah SWT, dan dengan ikhlas tawakkal dalam menghadapinya dan patuh serta tunduk sepenuhnya pada Qada dan Qadar Allah SWT setelah melalui masa ikhtiarnya.
Tetapi jika manusia tersebut, menganggap masalah sebagai hal yang negatif, dan menerimanya dengan sumpah serapah, menyalahkan Allah SWT dengan mengatas namakan ketidak adilan, menunjuk orang lain sebagai biang keladinya, tidak bisa menerima cobaan tersebut, maka nilai manusia tersebut akan semakin terpuruk dan terseret pada derajat yang lebih rendah lagi.
Ujian memang beragam, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Setiap orang akan secara relatif memiliki kemampuan menilai cobaan atau ujiannya sebagai yang ringan atau yang berat. Misalnya, seorang petinju kelas berat, akan sangat mudah menghadapi petinju kelas ringan, karena levelnya sudah jauh di atas bobot ujian yang dihadapinya. Misalnya lagi, jika kita mengangkat tangan kita saja tanpa beban apapun, sejenak kita akan menganggapnya sebagai hal remeh dan mudah dilakukan. Tetapi akan lain ceritanya jika kita disuruh mengangkat tangan kita lurus dalam waktu 2 atau 3 jam, atau setengah hari, apa yang kita rasakan. Beban yang ringan tadi akan menjadi berat. Jadi makna ujian atau cobaan memang relatif sifatnya. Oleh sebab itu kesabaran dan keikhlasan diperlukan untuk memenangkan setiap cobaan dan ujian yang ditimpakan kepada kita.
Dengan semakin diuji, kita bisa maknai hal tersebut bahwa Allah SWT semakin mencintai kita, semakin ingin membawa kita lebih dekat dengan Allah SWT. Satu hal penting, Allah SWT tidak akan memberikan beban cobaan dan ujian melebihi kapasitas yang bisa kita hadapi dan selesaikan.
Pesona Ottawa, 19 Januari 2011, 11:31pm
Sementara itu, jika sedikit menengok hakekat hidup manusia, dimana manusia diciptakan oleh Sang Khalik Allah SWT. Tentu saja, setiap manusia akan berlomba untuk bisa dekat dengan Allah SWT. Kedekatan tersebut diukur dalam tingkatan Derajat Taqwa. Seseorang dikatakan tinggi Derajat Ketaqwaannya apabila yang bersangkutan dengan jelas-jelas memiliki ‘Three way match’ dalam dirinya. Apakah maksudnya? Kalau ketaqwaan seseorang diukur dari ketaatannya untuk menjalankan semua perintah Allah SWT, dan menjauhi semua larangan Allah SWT, maka ‘three way match’ ini menjadi indikatornya. Apa yang diucapkan dari mulutnya, match dengan apa yang ada dihati/pikirannya, dan match pula dengan apa yang ada dalam tindakannya. Jadi ‘three way match’ ini adalah keselarasan sejati tanpa dibuat-buat, alignmen antara 3 hal:
1. Ucapan dari lisannya
2. Rasa yang ada dalam hatinya atau fikirannya
3. Tindakan tulus yang keluar dari dirinya
Oleh sebab itu, yang tahu derajat taqwa seseorang hanyalah Allah SWT. Kita sebagai manusia mungkin hanya mampu menilai seseorang dengan ‘two way match’ saja. Dan ini tidaklah lengkap.
Untuk mencapai derajat Taqwa, tidaklah semudah yang diharapkan oleh setiap orang. Ujian demi Ujian diberikan tanpa permintaan ijin kepada manusia tersebut, sadar atau tidak, suka atau tidak, mampu atau tidak, itu semua tidaklah menjadi soal. Yang pasti disaat ujian tersebut benar-benar diberikan, tanpa disadari reaksi yang timbul sangat beragam, sekali lagi ‘three way match’ akan membuktikan bahwa seseorang memiliki derajat Taqwa yang tinggi atau medium atau rendah.
Mereka yang lulus Ujian yang diberikan Allah SWT, akan menerima kenaikan derajat Taqwa satu tingkat lebih tinggi. Tetapi mereka yang tidak lulus akan tetap pada posisinya. Manusia hidup tidak akan pernah luput dari masalah. Hakekatnya masalah-masalah yang dibebankan kepada manusia ini akan membuatnya menjadi lebih baik, tumbuh dan berkembang menjadi lebih tangguh dari sebelumnya. Masalah membuat manusia menjadi dinamis dan semakin tinggi rasa bijaknya, semakin tinggi rasa toleransinya, semakin tinggi rasa hormatnya, semakin tinggi rasa santunnya, dan semakin banyak hal-hal positif lainnya yang dia bisa tingkatkan. Hal ini hanya mungkin terjadi bila manusia tersebut mampu memaknai datangnya masalah tersebut sebagai ujian Allah SWT, dan dengan ikhlas tawakkal dalam menghadapinya dan patuh serta tunduk sepenuhnya pada Qada dan Qadar Allah SWT setelah melalui masa ikhtiarnya.
Tetapi jika manusia tersebut, menganggap masalah sebagai hal yang negatif, dan menerimanya dengan sumpah serapah, menyalahkan Allah SWT dengan mengatas namakan ketidak adilan, menunjuk orang lain sebagai biang keladinya, tidak bisa menerima cobaan tersebut, maka nilai manusia tersebut akan semakin terpuruk dan terseret pada derajat yang lebih rendah lagi.
Ujian memang beragam, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Setiap orang akan secara relatif memiliki kemampuan menilai cobaan atau ujiannya sebagai yang ringan atau yang berat. Misalnya, seorang petinju kelas berat, akan sangat mudah menghadapi petinju kelas ringan, karena levelnya sudah jauh di atas bobot ujian yang dihadapinya. Misalnya lagi, jika kita mengangkat tangan kita saja tanpa beban apapun, sejenak kita akan menganggapnya sebagai hal remeh dan mudah dilakukan. Tetapi akan lain ceritanya jika kita disuruh mengangkat tangan kita lurus dalam waktu 2 atau 3 jam, atau setengah hari, apa yang kita rasakan. Beban yang ringan tadi akan menjadi berat. Jadi makna ujian atau cobaan memang relatif sifatnya. Oleh sebab itu kesabaran dan keikhlasan diperlukan untuk memenangkan setiap cobaan dan ujian yang ditimpakan kepada kita.
Dengan semakin diuji, kita bisa maknai hal tersebut bahwa Allah SWT semakin mencintai kita, semakin ingin membawa kita lebih dekat dengan Allah SWT. Satu hal penting, Allah SWT tidak akan memberikan beban cobaan dan ujian melebihi kapasitas yang bisa kita hadapi dan selesaikan.
Pesona Ottawa, 19 Januari 2011, 11:31pm
Subscribe to:
Posts (Atom)