Sebagai anak bangsa, kita wajib bangga menjadi warga Indonesia. Bangsa yang dikenal dengan adat ketimuran yang sangat santun dan memiliki sikap gotong royong yang sangat tinggi. Meski terdiri dari berbagai suku, agama dan latar belakang budaya yang majemuk, kita tetap mampu memelihara kehidupan yang rukun dan damai.
Sejalan dengan bergulirnya sang surya, hari berganti bulan, bulan berganti tahun, mungkin kita sudah menyadari bahwa kebanggaan di atas pada masa sekarang ini patut dipertanyakan ulang. Apakah memang benar kita masih layak untuk menyandang predikat tersebut. Tengoklah akibat proses belajar menuju demokrasi, beberapa contoh demokrasi politik yang sedang berlangsung telah menggores sejarah baru bahwa nilai-nilai dimasyarakat kita telah bergeser. Konflik dan kekerasan hampir setiap hari beredar tayang di media. Sepak bola, merupakan contoh nyata yang lainnya dan sangat memprihatinkan. Justru olah raga diharapkan menjadi tali perekat kerukunan antar kelompok masyarakat dan menjunjung nilai sportifitas, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Kebrutalan mengatasnamakan kekalahan, ketidakpuasan, dan kebencian atas keberhasilan kelompok lain telah menjadi tuntunan dan wajar bila dilakukan. Ironisnya bagi yang menangpun terkadang melampiaskannya dengan kebrutalan yang serupa!
Mari kita tengok bagaimana kejadian seperti ini menjadi hal yang rutin dalam keseharian kita dimasyarakat. Dari bagian terkecil dalam kehidupan sosial, yakni manusia sebagai individu. Bagaimanakah kesadaran seorang manusia sebagai individu? Bagaimana mereka memperoleh pemahaman sejak usia dini? Apakah mereka mendapatkan pendidikan yang baik dari senior-senior mereka (orang tua) ? Apakah mereka paham sebagai individu disamping memiliki hak, mereka juga harus memenuhi kewajibannya dalam hidup bermasyarakat? Apakah mereka paham bahwa hidup haruslah memberikan manfaat pada yang lainnya, pada lingkungannya, pada alam dan menjaga keseimbangan sesuai sunattullah yang sudah menjadi ketetapan Allah SWT.
Mengapa fenomena ini terjadi?
Kebudayaan merupakan bentukan dari sebuah perilaku atau kebiasaan yang diterapkan berkali-kali oleh individu atau sekelompok individu dalam satu lingkungan. Tentu saja perilaku yang pada akhirnya bisa diterima oleh mayoritas kelompok individulah yang akhirnya bertahan. Kebudayaan biasanya merupakan kombinasi dari ilmu, agama, norma yang berlaku, dan kondisi alam lingkungan sekitarnya.
Budaya diawali dari sebuah keluarga kecil, terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Dari lingkungan kelompok terkecil ini, secara perlahan akan mampu menggeser nilai-nilai budaya yang berlaku. Pergeseran ini tidak serta merta terjadi, tetapi perlu rentang waktu yang lama dan mungkin menunggu hingga generasi ke generasi.
Di negeri kita tercinta ini, pertumbuhan penduduk cukup pesat terjadi. Pembangunan di beberapa wilayah mengakibatkan satu wilayah menjadi favorit bagi warga untuk didatangi. Mereka datang dan berduyun-duyun untuk mendapatkan perubahan hidup yang 'lebih baik' dibanding dengan ditempat asalnya. Dari sinilah konsep persaingan diawali, mereka akan memaksimalkan usahanya agar bisa menjadi yang terbaik, mendapatkan bagian yang paling besar. Kepedulian akan sesama menjadi kebutuhan nomor 2, nomor 3, nomor 4 dan hingga tak terhitung sekarang ini berada diposisi keberapa. Dengan semakin banyaknya jumlah manusia yang datang pada wilayah ini, secara tidak langsung mereka membutuhkan lahan baru untuk tempat tinggal. Lahan-lahan yang tadinya digunakan untuk persawahan, hutan nan hijau, dan bahkan merupakan aliran sungai telah diperebutkan untuk tempat tinggal. Keseimbangan ekosistem alam menjadi bergeser. Wilayah menjadi tidak seimbang, kelembutan berubah menjadi kekerasan, kesejukan menjadi kegerahan, keindahan menjadi kegersangan dan seterusnya. Pergeseran ekosistem alam ini secara tidak langsung merubah hakekat hidup manusia. Manusia yang secara lahiriyah adalah mahluk individu dan sosial yang seimbang, telah bergeser menjadi lebih individualistis dibandingkan sosialisnya.
Lihatlah bagaimana kehidupan diperkotaan baru (komplek perumahan yang baru dibuka dengan fasilitas lengkap sehingga layak disebut sebagai kota baru). Bagaimana nilai-nilai budaya ditanamkan pada seorang anak. Jarang kita melihat anak-anak bermain didepan rumah dengan tetangga mereka, mereka memiliki permainan yang lengkap yang disediakan orang tua mereka dirumahnya. Sehingga mereka tidak memerlukan teman untuk itu. Sementara dirumah orang tua sibuk dengan kegiatannya sendiri, dan membiarkan anak-anak mereka bermain dengan permainan yang melatihnya untuk menjadi individu yang egois (secara perlahan). Kelak generasi yang demikian inilah yang akan menggantikan generasi sebelumnya yang mendapatkan pola didik yang jauh berbeda dengan mereka. Kelak kebudayaan Indonesia yang kita banggakan bersama ini perlahan menjadi luntur, dan akan muncul budaya baru yang penuh egoisme dan individualistis.
Ironis !! bahkan kita tidak mengenal sistem persaudaraan hingga beberapa tingkatan ke bawah, yang dipahami oleh anak-anak kita adalah keluarga dimana ada ayah, ibu, kakek dan nenek. Agak melebar sedikit mungkin mereka mengenal sepupu dari keluarga ayah ataupun ibu mereka. Sedangkan untuk lebih jauh dari tingkatan tersebut mereka tidak mengetahuinya.
Ingatkah dimasa kecil, kita sering melihat didepan rumah ada sebuah kendi tanah liat yang berisi air, siapapun yang dalam perjalanan merasa kehausan dengan mudah meminumnya, ingatkah kita pada masa lalu disaat ada keluarga yang pindah, tanpa diminta tetangga akan berdatangan memberikan bantuan secara sukarela, ingatkah kita bagaimana senangnya bercengkrama dengan keluarga besar di desa? sayangnya hal tersebut menjadi hal yang langka saat ini.
Apakah kita menginginkan budaya yang sangat kita banggakan sebelumnya tersebut kian musnah dari bumi pertiwi tercinta ini, ataukah kita menginginkannya kembali. Dimana kelembutan, akhlak yang santun dan ringan tangan kepada sesama menjadi hal rutin yang bisa kita jumpai dalam lingkungan dimana kita bernaung ini.
Wassalam, Surabaya, 16 Nov 2008, 12.30 wib.
About Me
- AFz
- Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
- Menggapai cita-cita bagaikan membajak sawah, menabur benih padi, mengatur pengairan, memelihara padi yang mulai tumbuh, memberi pupuk, melindunginya dari serangan hama penyakit, menengoknya setiap hari, merawat bagian yang sakit dan mengaturnya agar serasi, kesemuanya itu membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Tidak ada jalan pintas untuk dapat memanen tanpa melalui tahapan-tahapan yang disebut di atas.
Saturday, November 15, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment