About Me
- AFz
- Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
- Menggapai cita-cita bagaikan membajak sawah, menabur benih padi, mengatur pengairan, memelihara padi yang mulai tumbuh, memberi pupuk, melindunginya dari serangan hama penyakit, menengoknya setiap hari, merawat bagian yang sakit dan mengaturnya agar serasi, kesemuanya itu membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Tidak ada jalan pintas untuk dapat memanen tanpa melalui tahapan-tahapan yang disebut di atas.
Thursday, November 20, 2008
Pembeda Mukmin dan Munafik
Tuesday, November 18, 2008
Persepsi
Sesuatu itu bisa berupa benda, peristiwa, obyek, pernyataan, kata/kalimat dimana indera bisa menerimanya sebagai sentuhan yang perlu segera diterjemahkan. Bagaimana proses persepsi dibentuk? Manusia memiliki banyak dimensi dalam mengolah setiap momentum yang diterimanya. Beberapa diantaranya adalah aspek religius, lingkungan sekitar, pola pendidikan keluarga, nilai-nilai atau norma yang berlaku, pengalaman, pengetahuan yang telah dipelajarinya, dan banyaknya fakta yang mendukung informasi yang diterima melalui indera.
Bila kita melihat suatu benda tiga dimensi, perbedaan posisi sudut pandang saja akan menghasilkan terjemahan yang berbeda akan benda tersebut. Ilustrasi ini bisa dibuat analog untuk benda yang lebih abstrak misalnya sebuah kebahagiaan seseorang. Mungkin kita menilai seorang disebut bahagia jika yang bersangkutan memiliki banyak harta, atau memiliki jabatan yang disegani, atau memiliki banyak teman. Sudut pandang ini juga dibatasi oleh kemampuan yang bersangkutan. Oleh sebab itu janganlah mudah memberikan pendapat dengan mematahkan pendapat orang lainnya. Cobalah berdiri pada sudut pandang yang sama, sehingga anda bisa mengerti mengapa seseorang memiliki pendapat yang berbeda dengan kita.
Coba renungkan ilustrasi sederhana ini, seorang anak kecil yang baru saja dibelikan mainan berupa mobil-mobilan oleh orang tuanya. Disaat dia sedang bermain, datang teman sebayanya. Meski sebelumnya teman sebayanya ini adalah teman karibnya, tetapi disaat sang teman ini mencoba meminjam mobil tadi, spontan si anak menariknya secara kasar. Pada saat yang bersamaan ada seorang dewasa yang melihat kejadian tersebut, dan secara reflek bergumam wah sungguh pelit anak tersebut, pada teman karibnya saja tidak mau berbagi. Tetapi bagi si kecil yang baru mendapatkan hadiah mobil tadi, dia masih ingin memuaskan dirinya untuk bermain dengan mobil barunya, dia sendiri baru saja mendapatkannya. Sesuai dengan usianya yang memang suka bermain, dan jika kita coba membawa diri kita pada sudut pandang sikecil tadi, kemungkinan besar kita akan bertindak sama. Mungkin setelah si kecil bosan dengan mobil tadi, secara sukarela dia akan memberikannya ke teman karibnya.
Jika persepsi dikembangkan pada lingkungan kerja, jika masing-masing orang ditempat kerja memiliki kebesaran hati dalam memaknai setiap kejadian dalam pekerjaan, mungkin semua masalah akan menjadi ringan, karena setiap orang akan saling membantu dan mengisi atas kelemahan yang lainnya. Yang lebih akan memberi dan yang kurang akan terus belajar dan didukung.
Monday, November 17, 2008
Team Work
Team work adalah sekelompok orang yang berjumlah dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk mencapai satu tujuan yang sama.
Jadi tidak semua kelompok orang yang berkumpul disebut sebagai team work. Jika sekelompok orang berkumpul dan tidak memiliki tujuan sama, bisa jadi disebut gerombolan. Jika mereka memiliki tujuan sama tetapi tidak memiliki pembagian tugas maka inipun tidak termasuk dalam kategori team work, bisa jadi kelompok ini merupakan demonstran. Atau pada satu kesempatan anda menjumpai kumpulan orang disatu tempat jumlahnya cukup banyak, mereka ini ingin melihat sesuatu yang sama, tetapi tidak jelas siapa pemimpinnya, apa tugas masing-masing, tidak berbagi bahkan berebut tempat terdepan, biasanya ini disebut kerumunan.
Team work memiliki makna yang lebih positif, penuh energi dan spirit, dan memberikan manfaat tidak saja bagi anggotanya tetapi bagi lingkungan sekelilingnya. Team work ini bisa di identifikasi dari beberapa hal sebagai berikut:
- Adanya seorang leader
- Memiliki tujuan yang sama
- Saling berbagi pengetahuan
- Antusias
- Tidak saling menonjolkan ego
- Intensif berkomunikasi
- Memiliki pembagian tugas yang jelas
- Mempunyai target waktu
- Saling mengisi dan harmonis
- Memiliki komitmen
Leader:
Tanpa leader, kelompok orang tidak bisa disebut sebagai team work. Mengapa? karena masing-masing orang dalam kelompok tersebut akan bergerak tanpa ada yang mengendalikan dan memberi arah sehingga gerakan kelompok menjadi tidak terarah. Ibarat kelompok musik yang terdiri dari beberapa orang dengan alat musik yang berbeda. Meskipun masing-masing orang sangat ahli memainkan alat musiknya, jika tidak ada konduktor yang mengarahkannya, musik yang dihasilkan menjadi kurang harmoni.
Tujuan yang sama
Tanpa tujuan yang sama, setiap orang dalam kelompok tersebut akan bergerak tanpa arah yang jelas. Bahkan mereka menjadi terpecah-pecah setiap saat. Tidak ada kestabilan dan tidak ada yang menjadi perekat agar kelompok tersebut selalu bersama. Tidak ada satupun sasaran yang bisa dicapai.
Berbagi Pengetahuan
Setiap orang memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Kelebihan yang dimiliki masing-masing anggota bisa berbeda-beda, dan jika mereka berbagi akan memberikan akselerasi yang sangat hebat dan mampu menutupi kelemahan yang ada. Kelebihan dan kelemahan ini akan saling mengisi sehingga komposisi menjadi solid. Berbagi pengetahuan merupakan modal dasar bagi sebuah team work untuk mewujudkan tujuannya sesuai target yang telah ditetapkan.
Antusias
Bisa dibayangkan jika team work tidak memiliki antusias (semangat). Meskipun mereka mempunyai tujuan yang sama, masing-masing anggota telah saling berbagi, dan leader juga ada, tanpa semangat seperti robot tanpa jiwa. Tidak ada keinginan untuk bergerak, apalagi keinginan untuk meraih sesuatu. Antusias ini diperlukan sebagai pembangkit rasa percaya diri (Believe) bahwa tidak ada yang tidak mungkin, semangat pasti bisa!! Jiwa ini diperlukan oleh setiap team work.
Tidak Saling Menonjolkan Ego
Komponen ini memegang peranan penting dalam memastikan harmonisasi dari sebuah team. Jika masing-masing orang bersikeras atas keinginannya maka team tidak akan mampu bergerak maju, yang ada justru jalan ditempat. Karena setiap anggota menginginkan agar kemauannya dituruti. Team work memerlukan pengorbanan untuk mengalah untuk mendapatkan hasil yang lebih besar. Team work memerlukan kebesaran hati, disaat pendapat orang lain lebih realistik dan dan mayoritas anggota setuju, maka meski kita tidak sepaham, kita harus berbesar hati untuk mendukung pendapat tersebut agar tujuan team bisa tercapai.
Intensif Berkomunikasi
Tidak bisa digambarkan akan menjadi apa jika sebuah team work dibangun tanpa ada komunikasi di dalamnya. Bagaimana sebuah tujuan bisa dipahami oleh seluruh anggota jika tidak ada proses komunikasi? atau jika komunikasi hanya dilakukan sekali yakni saat pembentukan team, pembagian tugasnya, memberi tahu tujuannya tetapi setelah itu tidak ada komunikasi lanjutan. Apakah mungkin memonitor perkembangan yang terjadi, tanpa komunikasi tidak bisa diketahui sampai dimana proses yang sudah ada. Apakah proses sesuai arah yang sudah ditetapkan, kesulitan-kesulitan apa saja yang dijumpai, dan seterusnya. Komunikasi merupakan syarat mutlak agar team work bisa dimonitor perkembangannya, evaluasi bisa dilakukan, tindakan koreksi bisa diambil secepatnya untuk mengembalikan pada jalus yang benar.
Memiliki pembagian tugas yang jelas (update 12.20 am, 5 Januari 2010)
Ibarat sebuah mobil, ada bagian-bagian yang bekerja secara berbeda, tetapi semua perbedaan tersebut menghasilkan suatu harmoni sehingga menimbulkan efek pergerakan yang serasi dan bermanfaat sebagai alat transportasi. Hal yang demikian itu menggambarkan adanya kumpulan komponen yang memiliki fungsi dan peran yang berbeda akan tetapi bersinergi satu dan lainnya untuk mencapai sebuah tujuan. Team work juga harus memiliki filosofi seperti mobil tadi. Pembagian tugas yang jelas sesuai dengan target utama yang ingin dicapai. Pembagian tugas ini disesuaikan dengan kemampuan (skill) yang dimiliki oleh masing-masing anggota. Pembagian fungsi dan peran yang tidak berdasarkan skill dan kompetensi akan menghasilkan disharmonisasi bahkan kegagalan sebuah proses mencapai target utama. Pada saat fungsi dan peran sudah demikian jelas, keuletan, kegigihan, kesabaran, keyakinan (passion) dalam menjalankan fungsi dan peran yang diberikan merupakan bahan bakar penggerak menuju kesuksesan (pencapaian target utama).
Saturday, November 15, 2008
Hilangnya Kepekaan Sosial
Sejalan dengan bergulirnya sang surya, hari berganti bulan, bulan berganti tahun, mungkin kita sudah menyadari bahwa kebanggaan di atas pada masa sekarang ini patut dipertanyakan ulang. Apakah memang benar kita masih layak untuk menyandang predikat tersebut. Tengoklah akibat proses belajar menuju demokrasi, beberapa contoh demokrasi politik yang sedang berlangsung telah menggores sejarah baru bahwa nilai-nilai dimasyarakat kita telah bergeser. Konflik dan kekerasan hampir setiap hari beredar tayang di media. Sepak bola, merupakan contoh nyata yang lainnya dan sangat memprihatinkan. Justru olah raga diharapkan menjadi tali perekat kerukunan antar kelompok masyarakat dan menjunjung nilai sportifitas, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Kebrutalan mengatasnamakan kekalahan, ketidakpuasan, dan kebencian atas keberhasilan kelompok lain telah menjadi tuntunan dan wajar bila dilakukan. Ironisnya bagi yang menangpun terkadang melampiaskannya dengan kebrutalan yang serupa!
Mari kita tengok bagaimana kejadian seperti ini menjadi hal yang rutin dalam keseharian kita dimasyarakat. Dari bagian terkecil dalam kehidupan sosial, yakni manusia sebagai individu. Bagaimanakah kesadaran seorang manusia sebagai individu? Bagaimana mereka memperoleh pemahaman sejak usia dini? Apakah mereka mendapatkan pendidikan yang baik dari senior-senior mereka (orang tua) ? Apakah mereka paham sebagai individu disamping memiliki hak, mereka juga harus memenuhi kewajibannya dalam hidup bermasyarakat? Apakah mereka paham bahwa hidup haruslah memberikan manfaat pada yang lainnya, pada lingkungannya, pada alam dan menjaga keseimbangan sesuai sunattullah yang sudah menjadi ketetapan Allah SWT.
Mengapa fenomena ini terjadi?
Kebudayaan merupakan bentukan dari sebuah perilaku atau kebiasaan yang diterapkan berkali-kali oleh individu atau sekelompok individu dalam satu lingkungan. Tentu saja perilaku yang pada akhirnya bisa diterima oleh mayoritas kelompok individulah yang akhirnya bertahan. Kebudayaan biasanya merupakan kombinasi dari ilmu, agama, norma yang berlaku, dan kondisi alam lingkungan sekitarnya.
Budaya diawali dari sebuah keluarga kecil, terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Dari lingkungan kelompok terkecil ini, secara perlahan akan mampu menggeser nilai-nilai budaya yang berlaku. Pergeseran ini tidak serta merta terjadi, tetapi perlu rentang waktu yang lama dan mungkin menunggu hingga generasi ke generasi.
Di negeri kita tercinta ini, pertumbuhan penduduk cukup pesat terjadi. Pembangunan di beberapa wilayah mengakibatkan satu wilayah menjadi favorit bagi warga untuk didatangi. Mereka datang dan berduyun-duyun untuk mendapatkan perubahan hidup yang 'lebih baik' dibanding dengan ditempat asalnya. Dari sinilah konsep persaingan diawali, mereka akan memaksimalkan usahanya agar bisa menjadi yang terbaik, mendapatkan bagian yang paling besar. Kepedulian akan sesama menjadi kebutuhan nomor 2, nomor 3, nomor 4 dan hingga tak terhitung sekarang ini berada diposisi keberapa. Dengan semakin banyaknya jumlah manusia yang datang pada wilayah ini, secara tidak langsung mereka membutuhkan lahan baru untuk tempat tinggal. Lahan-lahan yang tadinya digunakan untuk persawahan, hutan nan hijau, dan bahkan merupakan aliran sungai telah diperebutkan untuk tempat tinggal. Keseimbangan ekosistem alam menjadi bergeser. Wilayah menjadi tidak seimbang, kelembutan berubah menjadi kekerasan, kesejukan menjadi kegerahan, keindahan menjadi kegersangan dan seterusnya. Pergeseran ekosistem alam ini secara tidak langsung merubah hakekat hidup manusia. Manusia yang secara lahiriyah adalah mahluk individu dan sosial yang seimbang, telah bergeser menjadi lebih individualistis dibandingkan sosialisnya.
Lihatlah bagaimana kehidupan diperkotaan baru (komplek perumahan yang baru dibuka dengan fasilitas lengkap sehingga layak disebut sebagai kota baru). Bagaimana nilai-nilai budaya ditanamkan pada seorang anak. Jarang kita melihat anak-anak bermain didepan rumah dengan tetangga mereka, mereka memiliki permainan yang lengkap yang disediakan orang tua mereka dirumahnya. Sehingga mereka tidak memerlukan teman untuk itu. Sementara dirumah orang tua sibuk dengan kegiatannya sendiri, dan membiarkan anak-anak mereka bermain dengan permainan yang melatihnya untuk menjadi individu yang egois (secara perlahan). Kelak generasi yang demikian inilah yang akan menggantikan generasi sebelumnya yang mendapatkan pola didik yang jauh berbeda dengan mereka. Kelak kebudayaan Indonesia yang kita banggakan bersama ini perlahan menjadi luntur, dan akan muncul budaya baru yang penuh egoisme dan individualistis.
Ironis !! bahkan kita tidak mengenal sistem persaudaraan hingga beberapa tingkatan ke bawah, yang dipahami oleh anak-anak kita adalah keluarga dimana ada ayah, ibu, kakek dan nenek. Agak melebar sedikit mungkin mereka mengenal sepupu dari keluarga ayah ataupun ibu mereka. Sedangkan untuk lebih jauh dari tingkatan tersebut mereka tidak mengetahuinya.
Ingatkah dimasa kecil, kita sering melihat didepan rumah ada sebuah kendi tanah liat yang berisi air, siapapun yang dalam perjalanan merasa kehausan dengan mudah meminumnya, ingatkah kita pada masa lalu disaat ada keluarga yang pindah, tanpa diminta tetangga akan berdatangan memberikan bantuan secara sukarela, ingatkah kita bagaimana senangnya bercengkrama dengan keluarga besar di desa? sayangnya hal tersebut menjadi hal yang langka saat ini.
Apakah kita menginginkan budaya yang sangat kita banggakan sebelumnya tersebut kian musnah dari bumi pertiwi tercinta ini, ataukah kita menginginkannya kembali. Dimana kelembutan, akhlak yang santun dan ringan tangan kepada sesama menjadi hal rutin yang bisa kita jumpai dalam lingkungan dimana kita bernaung ini.
Wassalam, Surabaya, 16 Nov 2008, 12.30 wib.
Thursday, November 13, 2008
Personality versus Character
Personality Proses penyesuaian sikap untuk mencapai sesuatu, personality bisa dicapai melalui belajar meniru sikap atau nilai umum yang banyak dianut oleh masyarakat, belajar tersenyum walau hati sedang luka, menjaga sikap kesopanan meskipun hati kecil berontak ingin banyak tingkah, menjaga cara bicara meskipun bertentangan dengan nurani, berusaha berbesar hati didepan khalayak meski hati ingin bersumpah serapah. Personality merupakan cerminan keberhasilan sesaat, dia merupakan topeng yang menutupi keadaan yang sesungguhnya. Sulit mengetahui apa isi hati yang sesungguhnya
CharacterSikap apa adanya yang muncul dari sebuah pribadi, baik disaat berada didepan khalayak ataupun saat menyepi seorang diri. Character merupakan indikator murni untuk menilai sebuah pribadi, karena character bukanlah topeng, ia adalah wujud nyata sebuah kejujuran atas semua hal, jika ia baik maka kebaikan akan selalu muncul baik itu diminta atau tidak, jika ia buruk maka keburukan akan selalu muncul meski tidak diminta.
Character bisa dikendalikan dengan penanaman akhlak sejak dini, karena akhlak mengajarkan nilai-nilai universal yang bermanfaat bagi seluruh makhluk hidup dimuka bumi ini.