About Me

My photo
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Menggapai cita-cita bagaikan membajak sawah, menabur benih padi, mengatur pengairan, memelihara padi yang mulai tumbuh, memberi pupuk, melindunginya dari serangan hama penyakit, menengoknya setiap hari, merawat bagian yang sakit dan mengaturnya agar serasi, kesemuanya itu membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Tidak ada jalan pintas untuk dapat memanen tanpa melalui tahapan-tahapan yang disebut di atas.

Tuesday, February 4, 2014

Too fast action will go no where



Judul di atas terkait erat dengan tindakan manusia untuk mencapai tujuannya. Setiap individu selalu memiliki tujuan hidup, memiliki keinginan untuk mencapai sesuatu. Begitu pula sebuah organisasi, dibentuk dengan sebuah tujuan.

Sebagai pemimpin kerapkali kita meminta anak buah atau staff kita untuk segera bertindak atas kejadian, melakukan perbaikan, mengeksekusi sebuah rencana. Dalam proses meminta kita harus memahami apakah staff atau anak buah tadi memahami tugas yang diberikan, memahami bagaimana menyelesaikannya dan memahami prosesnya. Terkadang kita sangat yakin bahwa tugas sudah kita delegasikan dan yakin sekali pekerjaan akan segera selesai. Padahal jika staff atau anak buah yang tidak memahami tugas tersebut mengakibatkan pekerjaan menjadi tidak selesai.

Too fast action will go no where, berarti kita bereaksi sangat cepat atas instruksi, ide atau tugas yang diberikan kepada kita, tanpa dipikirkan terlebih dahulu apa, mengapa, dimana, kapan dan bagaimananya. Karena disaat kita sudah bertindak dan hal-hal yang diperlukan ternyata tidak disiapkan maka pekerjaan tidak akan selesai.

Misalnya:
Merencanakan liburan ke bali. (Too fast action will go no where).
Secara tergesa-gesa langsung berangkat,
  • Lupa tidak membawa uang atau dokumen bank, sehingga saat mau membeli tiket tidak bisa, dan harus kembali ke rumah.
  • Lupa tidak membawa peralatan untuk tujuan liburan, sehingga liburan menjadi tidak sesuai dengan harapan
  • Lupa belum mempersiapkan agendanya, sehingga agenda dipikirkan sambil dalam perjalanan, sehingga arah tujuan liburan menjadi tidak jelas

Melaksanakan perintah atasan untuk mengimplentasikan metode baru (Too fast action will go no where)
Secara tergesa-gesa langsung mengeksekusi metode baru dengan mengumpulkan key person dalam organisasi.
  • Tanpa memberikan briefing apa itu metode baru, mengapa harus diterapkan, kapan diterapkannya, dimana diterapkannya, dan bagaimana menerapkanya. Maka mereka yang hadir dalam pertemuan tersebut akan bingung dan memiliki interpretasi yang berbeda
  • Tidak ada pengenalan atau sosialisasi terlebih dahulu, mengakibatkan pelaksanaan mendapatkan interpretasi yang berbeda-beda.
  • Tidak ada training tentang metode baru tersebut, maka implementasi akan memerlukan waktu yang lama, karena banyaknya kesalahan yang terjadi dan perbedaan pendapat.

Pada intinya, jika kita ingin menjalan sesuatu yang baru, janganlah tergesa-gesa. Pikirkanlah secara matang:
1.      Apa sesuatu tersebut
2.      Bagaimana menjalankannya (prosesnya)
3.      Potensi resiko dan hal-hal terkait apa saja yang perlu dipersiapkan
4.      Pengetahuan dari orang-orang yang bakal terkena perubahan atau implementasi sesuatu itu, apakah mereka sudah tahu? Sudah peduli? Sudah memahami impactnya? Dan tahu bagaimana antisipasinya?

Bergerak cepat, berharap mendapatkan hasil cepat, tetapi tanpa antisipasi akan menghasilkan problem yang luar biasa pula.

2.2.14

Tuesday, April 23, 2013

Pernahkah terpikirkan oleh diri kita?

Sebuah renungan atas setiap tindakan yang telah dilakukan oleh seseorang dan berdampak kepada orang lainnya. Misalnya ketika seseorang yang sangat berkecukupan lagi dermawan. Sebut saja beliau adalah si fulan. Si fulan ini dalam hidupnya telah mengadopsi beberapa anak yatim piatu untuk dibiayai sekolahnya.Dia juga memberikan bantuan keuangan rutin kepada beberapa panti jompo. Selain itu dia juga mempekerjakan beberapa orang dirumahnya, dimana sebagian besar adalah kaum miskin. Meskipun pekerja tadi tidak memiliki keterampilan yang memadai, si Fulan tetap saja memberikan lapangan pekerjaan kepada mereka, dengan satu tujuan ingin membantu mereka dan berbagi rejeki atas karunia yang diberikan Tuhan kepada si Fulan. Dengan berbagai kondisi di atas, secara tidak langsung si Fulan ini merupakan tulang punggung banyak orang. Rejeki yang datang dari Tuhan ini dilewatkan melalui si Fulan dan disalurkan ke orang lainnya. Suatu hari, si Fulan bertemu dengan seseorang, karena sifat dermawannya ini dia bisa cepat akrab dan seperti biasanya ingin selalu membantu orang lain. Seseorang ini sebut saja nama si Culas. Culas saat berkenalan dengan Fulan, menyampaikan beberapa keluhan yang dialami dalam hidupnya. Setiap kesulitan yang dihadapinya disampaikan oleh Culas kepada si Fulan. Mendengar keluhan dari si Culas ini, Fulan ingin membantunya, dengan cara ditawarinya pekerjaan. Singkat cerita, karena si Culas menunjukkan prestasi, beberapa bagian pekerjaan penting hingga masalah keuangan dipercayakan kepadanya. Hingga suatu hari, dimana si Culas sedang menghadapi persoalan dalam kehidupannya, dan kebetulan memerlukan biaya yang sangat besar. Dia mulai berbuat curang terhadap si Fulan. Si Fulan tidak menyadari bahwa dirinya sedang ditipu oleh si Culas, hingga pada titik semua kekayaan si Fulan telah lenyap dan si Culaspun pergi entah kemana. Dari sedikit cerita di atas, pelajaran apa yang bisa kita ambil? Perbuatan si Culas, dengan sifat buruknya dia telah berbuat jahat kepada si Fulan, hingga menggerogoti kekayaan si Fulan dan menyebabkan si Fulan tidak memiliki kekayaan lagi. Apakah perbuatan si Culas ini hanya menyebabkan kesengsaraan pada diri si Fulan saja? Adakah si Culas berfikir bahwa akibat perbuatannya, banyak orang menjadi sengsara secara tidak langsung? Bayangkan saja si Fulan yang dermawan ini akhirnya tidak bisa membiayai sekolah anak yatim piatu yang diadopsinya, dia juga menghentikan sumbangannya ke beberapa panti jompo, dan dia tidak bisa membayar gaji orang-orang miskin yang dipekerjakan ditempatnya. Berapa banyak orang yang menjadi korban akibat keserakahan dari satu orang yang bernama si Culas? Kita sebagai manusia bagian dari makhluk sosial yang hidup diantara manusia lainnya, terkadang tidak pernah berfikir panjang atas apa yang kita lakukan. Kita hanya bisa mengeluh atas cobaan yang diberikan Tuhan kepada kita. Dan dengan dalih kemiskinan dan hidup susah, kita dengan mudahnya membenarkan tindakan buruk atau membebani orang lain agar membantu kita. Bahkan dengan cara-cara yang keji dan tidak berprikemanusiaan. Menipu, memperalat, memanfaatkan, mengancam, menyebar fitnah, menggunakan kekuasaan, dan hal buruk lainnya dipergunakan untuk kepentingan pribadi dan memuaskan keinginan pribadi, sehingga mengorbankan orang lain. Ironisnya, kita hanya berfikir bahwa yang kita jadikan korban hanyalah segelintir orang. Kita tidak pernah berfikir bahwa orang yang kita jadikan korban ini adalah orang yang memberikan banyak manfaat bagi orang lain. Sehingga pada saat orang ini sudah kehilangan kemampuannya, maka semua orang yang telah dibantunya juga kehilangan sumber manfaat dari orang yang telah kita jadikan korban tersebut. (Surabaya, 23 April 2013).

Saturday, January 22, 2011

Kepemimpinan (Leadership) bukanlah sebuah Level Jabatan atau Jenjang Karir

Dalam setiap training terkait topik management atau leadership yang saya bawakan atau pas kebetulan mendapat kesempatan mengikuti training, beberapa pertanyaan yang relative sama selalu muncul disampaikan peserta. Pertanyaan tersebut sangat relevan dengan judul yang ingin saya kupas pada kesempatan kali ini. Bagaimanakah caranya agar kita bisa mendapatkan kesempatan untuk promosi? Bagaimana caranya kita bisa manager dalam waktu cepat? Bagaimana caranya agar saya bisa menjadi pemimpin di departemen dimana saya bekerja saat ini?
Pertanyaan-pertanyaan sejenis di atas bervariasi, tetapi pada intinya adalah sama, bagaimana saya bisa berada diposisi tertinggi didepartemen? Divisi? Atau Organisasi?
Setiap individu yang bekerja atau aktif dalam sebuah organisasi baik bisnis maupun non bisnis (bisa juga dibidang politik), pastilah memimpikan untuk bisa menjadi pemimpin. Meskipun tidak menjadi yang tertinggi, paling tidak bisa memiliki beberapa anak buah, sehingga dia merasa bangga atas posisinya tersebut. Tetapi tidak sedikit pula mereka yang tidak memiliki ambisi atau keinginan untuk menjadi pemimpin. Bagi kelompok ini bekerja menjadi bagian dari team sudah membuatnya puas.
Kita coba fokus pada kelompok pertama, dimana mereka menginginkan untuk bisa terus menanjak jenjang karirnya. Dalam prosesnya banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan posisi ini. Ada yang memilih cara yang baik, dan ada pula yang menggunakan trik-trik tertentu agar bisa mendapatkan keinginan pribadinya. Dalam tulisan saya terdahulu (tahun 2009), saya sempat mengupas perbedaan tentang Character dengan Personality.
Seorang pemimpin ada yang Genuine (orisinal) dan ada yang dipoles dengan topeng lain. Dilapangan mungkin saja kita kesuliltan membedakan kedua hal ini. Tetapi beberapa orang yang telah berpengalaman, akan sangat mudah melihat kedua perbedaan ini.
Seseorang yang memiliki ambisi positif untuk menjadi pemimpin, akan terus berjuang agar apapun yang diberikan kepadanya sebagai tugas atau kewajibannya, selalu diselesaikan dengan baik dan penuh dedikasi. Kelompok ini akan selalu mementingkan keberhasilan secara bersama, memberikan manfaat kepada sesama rekan kerjanya, melindungi organisasi atau perusahaan dimana dia bekerja dengan dedikasi penuh yang ikhlas. Bagi kelompok ini, take and give adalah sebuah harmoni yang begitu indah yang tidak layak untuk dinodai. Take and give yang dimaksud adalah dimanapun mereka bekerja mereka mendapat fasilitas, gaji, perlindungan dari perusahaan. Disamping itu mereka menerima kewajiban (amanah pekerjaan) yang harus mereka selesaikan agar perusahaan bisa mencapai tujuannya. Termasuk dalam kelompok ini adalah organisasi/perusahaan yang dengan sungguh-sungguh menjalankan kegiatannya dengan tetap bertanggung jawab pada lingkungan sekitarnya (good citizen). Keberadaan organisasi/perusahaan memberikan manfaat nyata bagi kemakmuran, kemajuan, kesejahteraan dan bahkan keseimbangan pada alam sekitarnya.
Disisi yang berbeda kita coba tengok kelompok yang memiliki ambisi tetapi melakukannya dengan cara yang negatif. Kelompok ini memiliki ciri khas yang bisa dilihat nyata. Mementingkan kelompok, mementingkan golongan, mementingkan pribadi. Dan tidak sedikit yang mengorbankan rekannya agar dia memperoleh apa yang diinginkannya. Kelompok ini akan menggunakan seluruh potensi baik yang positif dan yang negatif, mereka sangat licik dan cenderung agresif. Tidak jarang pula disertai dengan pendekatan kepada atasan yang berlebihan. Kelompok ini sangat antusias untuk membuat atasannya merasa senang dengan apapun yang dia kerjakan. Keinginan untuk membuat atasan senang bukanlah tanpa maksud, tetapi tidak lain agar dia segera mendapatkan kepercayaan yang dia inginkan.
Melihat dua kelompok yang kontras di atas, mari kita kembalikan pada hakekat hidup. Alam diciptakan dalam keadaan seimbang. Jika terjadi gangguan atau pergeseran, maka alam akan mencari kesemibangan baru. Proses menuju keseimbangan ini terkadang disertai bencana yang memilukan dan banyak memakan korban. Demikianlah sebuah hukum yang sudah dibuat (Sunnatulah). Kehidupan dialam ini haruslah dalam balutan harmoni yang indah, mahluk hidup dan lingkungan bersinergi membuat bentuk kehidupan menjadi lebih baik. Manusia satu dengan manusia yang lain saling mambantu, menyayangi, melindungi, menghormati, memberitahu kepada yang belum tahu, mendidik agar menjadi santun dan seterusnya. Demikian dengan setiap pekerjaan yang kita lakukan. Harusnya pekerjaan tersebut harus memberikan kebaikan. Kita mengerjakan setiap pekerjaan bukan berfokus pada orang lain agar merasa senang. Tetapi lebih berfokus pada bagaimana seharusnya pekerjaan itu diselesaikan dengan sebaik-baiknya tanpa embel-embel agar atasan kita senang atau agar kita tidak dimarahi oleh atasan.
Jika kita melakukan sebuah pekerjaan hanya karena takut dimarahi atau ditegur oleh atasan, maka sebenarnya kita tidak memahami hakekat hidup, seperti yang saya ilustrasikan pada paragraph sebelumnya. Kerjakanlah setiap tugas yang diberikan sesuai dengan yang seharusnya, tidak perlu khawatir apakah atasan mengawasi atau tidak, jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh dan dikerjakan dengan benar maka kita akan mendapatkan semuanya. Pekerjaan menjadi selesai, orang yang melanjutkan langkah berikutnya dari hasil kerja kita menjadi senang dan puas, atasan akan ikut merasa senang. Janganlah mengerjakan sebuah tugas hanya jika anda diawasi atau karena takut atas teguran. Itu artinya anda tidak paham makna dari pekerjaan anda.
Pekerjaan adalah sebuah pengabdian dan pelayanan, jika anda lakukan secara orisinal dan tulus, pengabdian dan pelayanan anda tidak akan pernah sia-sia. Dan jangan lupa untuk selalu memahami pekerjaan yang diberikan kepada anda. Memahami pekerjaan adalah mengerti “mengapa” pekerjaan itu harus ada dan dikerjaan demikian? Bukan hanya hafal langkah-langkahnya. Kebanyakan jika anda hafal saja, suatu saat anda akan melakukan kekeliruan. Mereka yang mengabdikan dan memberikan pelayanan pekerjaannya dengan baik dan sempurna, akan mendapatkan kesempatan berikutnya dengan jenjang lebih tinggi. Setiap jenjang yang diperoleh dengan prinsip pengabdian dan pelayanan ini akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas. Pemimpin yang akan selalu memberikan perlindungan, mengedepankan kepentingan yang lebih besar, membuat pengikut-pengikutnya memiliki hidup yang lebih baik dan lebih makmur sejahtera. Membawa perusahaan yang dia pimpim menjadi yang terdepan dan terbesar. Pemimpin orisinal, humble (sederhan tetapi berisi), tetap santun, tidak angkuh atas jabatannya. Baginya jabatan sebagai pemimpin bukanlah karir yang bisa dibanggakan. Tetapi menjadi pemimpin adalah sebuah tanggung jawab, pengabdian dan pelayanan.
Apakah anda masih memiliki ambisi menjadi pemimpin untuk kepentingan kelompok atau diri anda sendiri? Ataukah anda siap untuk bertanggung jawab, mengabdi dan melayani? Pilihan ada pada diri anda.

Manyar Tompotika Surabaya, Sabtu, 22 Januari 2011, 17.43 wib.

Thursday, January 20, 2011

Planning Organizing Actuating Controlling (POAC)

4 poin yang sederhana tapi lugas dan tegas menunjukkan pentingnya peranan yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin. Jika seorang pemimpin tidak melakukan keempat poin di atas, sama halnya dia tidak menjalankan fungsinya.
Setiap aktivitas butuh perencanaan, tidak akan berjalan lancar sebuah kegiatan tanpa perencanaan. Jika ada yang bilang sangat sulit untuk melakukan prediksi atas apa yang akan terjadi dalam bisnis, memang ada benarnya. Tetapi dengan latihan dan praktek berulang kali, maka perencanaan akan sebuah kegiatan menjadi semakin akurat. Pada suatu hari seseorang menyampaikan problemnya kepada saya, kebetulan orang ini bekerja di FMCG di departemen physical logistic. Dia menyampaikan fakta bahwa untuk merencanakan produk-produk yang akan didespatch keesokan harinya, dia telah mencoba untuk mempersiapkan. Tetapi sangat sering terjadi bahwa apa yang dia siapkan dan/atau dijanjikan oleh rekannya di sales/marketing tidak menjadi kenyataan. Dengan kata lain variasi perbedaannya sangat besar, mengakibatkan frustasi yang luar biasa.
Saya menanyakan kepadanya beberapa hal dasar:
1. Apakah system informasi tentang rencana kedatangan kendaraan dia terima lebih awal?
2. Apakah setiap kendaraan yang datang membawa surat perintah pengambilan dengan nomor order yang jelas?
3. Apakah ada system harian/mingguan/bulanan atas rencana dispatch?
4. Bagaimana mekanisme order processingnya?
5. Mekanisme transportation dan fleet managemennya?
6. Dan seterusnya. Dan seterusnya.
Ternyata, dia tidak bisa menjawab dengan baik, dan menyangsikan apakah system tersebut ada atau sudah terstruktur rapi demikian. Setelah tahu akan hal ini, saya sampaikan kepadanya wajar saja kalau anda tidak bisa membuat planning yang baik.
Jika beberapa pertanyaan di atas tidak ada jawabnya atau dengan kata lain organisasi belum ada secara terstruktur (integrated), tetapi itu semua bukanlah akhir dari segalanya. Masih ada jalan lain yang tetap bisa dijadikan pedoman untuk membuat perencanaan kerja.
Masih ada data histori yang bisa dijadikan sebagai pedoman, meskipun akurasi dari hal tersebut tidaklah optimal. Tetapi paling tidak bisa membantu menjadikan kegiatan dispatch menjadi lebih baik. Semua produk yang diperlukan sesuai data histori, disiapkan pada lokasi dispatch, sehingga pelayanan pemuatan menjadi lancar. Cycle Time performance merupakan salah satu indikator vital dalam kegiatan logistic. Dalam kasus di atas, Cycle Time ditempat dia bekerja sangatlah buruk. Dan ini terus berlanjut dan berlanjut.
Setelah perencanaan disiapkan, tiba gilirannya untuk mengatur organisasinya. Siapa mengerjakan apa (who is going to do what). Pengaturan ini merupakan strategi yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin. Tidak bisa dibayangkan, bahwa jajaran operasional yang akan menjalankan kegiatan tersebut tidak diorganisasikan dengan baik. Mereka akan berjalan sendiri-sendiri dengan caranya masing-masing yang tentu saja akan fokus pada kepentingan mereka sendiri. Akibatnya benturan kepentingan akan terjadi dan sebagai dampak besarnya adalah bisnis secara keseluruhan akan jadi korbannya. Mengatur organisasi (organizing) adalah suatu kegiatan pokok, dimana scenario dibuat dengan detil, script dijelaskan secara jelas dan lugas, personel disiapkan sesuai dengan peran masing-masing. Sukses tidaknya kegiatan yang ditargetkan akan sangat tergantung pula pada step ini.
Actuating, bisa diibaratkan penekanan tombol sebagai tanda dimulainya kegiatan. Setiap komponen yang ada termasuk personel, melakukan kegiatan tahap demi tahap sesuai script yang sudah disiapkan dalam step sebelumnya. Dalam proses actuating ini, peran pemimpin menjadi seperti seorang Dirigent dari kegiatan Musikal. Dia akan memerintahkan alat music mana yang harus dimainkan dengan intonasi tertentu sehingga menjadi harmoni yang indah untuk didengar. Begitu juga dengan kegiatan fisik organisasi baik bisnis maupun non bisnis, seorang pemimpin pada tahapan actuating ini, harus mampu menunjukkan kemampuannya dalam menggerakkan mata rantai yang sudah diorganisasikan sebelumnya. Memastikan harmoninya agar setiap langkah menjadi lancar dan sesuai target.
Jika semua aktivitas sudah berjalan sesuai dengan yang diatur dalam 3 step sebelumnya (Planning, Organizing, Actuating), maka langkah terakhir tidak boleh dilupakan. Langkah ini ibarat Pit Stop pada balapan F1, dia melakukan control atau cek apakah semua kegiatan mengikuti rel yang sudah ada ataukah keluar dari rel yang ada. Kontrol atau pengawasan, merupakan competency vital bagi seorang pemimpin. Kemampun mengontrol inilah yang nantinya membawa keseluruhan team mencapai tujuan akhir dari target yang ingin dicapai. Disetiap pit stop, setiap bagian komponen dicek, direfill (isi ulang). Jika ditemukan ada sesuatu yang tidak sesuai segera dilakukan penyesuaian dan koreksi, agar penyimpangan tidak semakin jauh.
Sekali lagi POAC, meski ini terkesan sederhana, tetapi powerful jika dilaksanakan dengan baik dan benar.

Pesona Ottawa, 20 januari 2011, 22.41 wib

Wednesday, January 19, 2011

Memaknai Cobaan dan Ujian Hidup

Yang membedakan jenjang kelas disaat kita masih dibangku sekolah sejatinya hanyalah sebuah ujian yang dibuat oleh manusia lainnya. Jika kita lulus dari ujian tersebut maka dinaikanlah ke kelas yang lebih tinggi, jika tidak lulus maka kita akan tetap tinggal pada level sebelumnya.
Sementara itu, jika sedikit menengok hakekat hidup manusia, dimana manusia diciptakan oleh Sang Khalik Allah SWT. Tentu saja, setiap manusia akan berlomba untuk bisa dekat dengan Allah SWT. Kedekatan tersebut diukur dalam tingkatan Derajat Taqwa. Seseorang dikatakan tinggi Derajat Ketaqwaannya apabila yang bersangkutan dengan jelas-jelas memiliki ‘Three way match’ dalam dirinya. Apakah maksudnya? Kalau ketaqwaan seseorang diukur dari ketaatannya untuk menjalankan semua perintah Allah SWT, dan menjauhi semua larangan Allah SWT, maka ‘three way match’ ini menjadi indikatornya. Apa yang diucapkan dari mulutnya, match dengan apa yang ada dihati/pikirannya, dan match pula dengan apa yang ada dalam tindakannya. Jadi ‘three way match’ ini adalah keselarasan sejati tanpa dibuat-buat, alignmen antara 3 hal:
1. Ucapan dari lisannya
2. Rasa yang ada dalam hatinya atau fikirannya
3. Tindakan tulus yang keluar dari dirinya
Oleh sebab itu, yang tahu derajat taqwa seseorang hanyalah Allah SWT. Kita sebagai manusia mungkin hanya mampu menilai seseorang dengan ‘two way match’ saja. Dan ini tidaklah lengkap.
Untuk mencapai derajat Taqwa, tidaklah semudah yang diharapkan oleh setiap orang. Ujian demi Ujian diberikan tanpa permintaan ijin kepada manusia tersebut, sadar atau tidak, suka atau tidak, mampu atau tidak, itu semua tidaklah menjadi soal. Yang pasti disaat ujian tersebut benar-benar diberikan, tanpa disadari reaksi yang timbul sangat beragam, sekali lagi ‘three way match’ akan membuktikan bahwa seseorang memiliki derajat Taqwa yang tinggi atau medium atau rendah.
Mereka yang lulus Ujian yang diberikan Allah SWT, akan menerima kenaikan derajat Taqwa satu tingkat lebih tinggi. Tetapi mereka yang tidak lulus akan tetap pada posisinya. Manusia hidup tidak akan pernah luput dari masalah. Hakekatnya masalah-masalah yang dibebankan kepada manusia ini akan membuatnya menjadi lebih baik, tumbuh dan berkembang menjadi lebih tangguh dari sebelumnya. Masalah membuat manusia menjadi dinamis dan semakin tinggi rasa bijaknya, semakin tinggi rasa toleransinya, semakin tinggi rasa hormatnya, semakin tinggi rasa santunnya, dan semakin banyak hal-hal positif lainnya yang dia bisa tingkatkan. Hal ini hanya mungkin terjadi bila manusia tersebut mampu memaknai datangnya masalah tersebut sebagai ujian Allah SWT, dan dengan ikhlas tawakkal dalam menghadapinya dan patuh serta tunduk sepenuhnya pada Qada dan Qadar Allah SWT setelah melalui masa ikhtiarnya.
Tetapi jika manusia tersebut, menganggap masalah sebagai hal yang negatif, dan menerimanya dengan sumpah serapah, menyalahkan Allah SWT dengan mengatas namakan ketidak adilan, menunjuk orang lain sebagai biang keladinya, tidak bisa menerima cobaan tersebut, maka nilai manusia tersebut akan semakin terpuruk dan terseret pada derajat yang lebih rendah lagi.
Ujian memang beragam, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Setiap orang akan secara relatif memiliki kemampuan menilai cobaan atau ujiannya sebagai yang ringan atau yang berat. Misalnya, seorang petinju kelas berat, akan sangat mudah menghadapi petinju kelas ringan, karena levelnya sudah jauh di atas bobot ujian yang dihadapinya. Misalnya lagi, jika kita mengangkat tangan kita saja tanpa beban apapun, sejenak kita akan menganggapnya sebagai hal remeh dan mudah dilakukan. Tetapi akan lain ceritanya jika kita disuruh mengangkat tangan kita lurus dalam waktu 2 atau 3 jam, atau setengah hari, apa yang kita rasakan. Beban yang ringan tadi akan menjadi berat. Jadi makna ujian atau cobaan memang relatif sifatnya. Oleh sebab itu kesabaran dan keikhlasan diperlukan untuk memenangkan setiap cobaan dan ujian yang ditimpakan kepada kita.
Dengan semakin diuji, kita bisa maknai hal tersebut bahwa Allah SWT semakin mencintai kita, semakin ingin membawa kita lebih dekat dengan Allah SWT. Satu hal penting, Allah SWT tidak akan memberikan beban cobaan dan ujian melebihi kapasitas yang bisa kita hadapi dan selesaikan.

Pesona Ottawa, 19 Januari 2011, 11:31pm

Monday, October 4, 2010

Sebuah Renungan


Minggu pagi 3 Oktober udara sangat cerah, setelah bersiap-siap sejenak tiba saatnya meluncur di pojok McD Cibubur. Sambil menunggu teman datang, aku memesan 1 paket menu untuk sarapan. Sudah sangat lama tidak makan fast food, tetapi lumayanlah untuk mengisi sarapan pagiku. Tak beberapa lama, 2 sahabatku datang. Hari ini kita akan mengunjungi seorang teman lama yang 24 tahun lebih kita belum pernah bertemu, yaitu sejak pelepasan SMA. Sebelum menuju lokasi, bertiga kita meluncur ke Botani Square di bogor, dimana kita janjian untuk ketemu dengan seorang teman yang lainnya yang juga ingin gabung berkunjung.

Sebenarnya sudah cukup lama kita ingin berkunjung untuk menengok keadaannya. Kita mendapatkan kabar bahwa dia mendapatkan cobaan berupa stroke yang mengakibatkan hilangnya kemampuan untuk berbicara, dan disertai bagian kaki kirinya agak sulit untuk digerakkan. Rupanya hari minggu ini merupakan hari yang telah digariskan Allah SWT untuk aku dan teman-temanku bisa datang kerumah sahabatku yang sakit ini.

Di dalam perjalanan muncul ide untuk kontak sahabat yang lainnya guna mengumpulkan dana yang barangkali bisa kita berikan pada sahabatku yang sedang sakit ini. Alhamdullilah teman-teman yang kita kontak secara spontan mau menyisihkan sebagian rejekinya. Aku bersyukur memiliki sahabat yang masih solid dan perhatian kepada sahabatnya yang lain yang sedang membutuhkan.

Setelah bertanya beberapa kali akhirnya kita menemukan rumah sahabat yang sakit ini. Saat memasuki rumahnya, sahabatku ini berdiri menyongsong kami, meski terlihat tegap, dengan fisik yang tidak banyak berubah dengan mudah kita mengenalinya. Meskipun demikian sahabatku ini baru ingat setelah kita menyebutkan nama masing-masing. Dari kondisi fisiknya tampak bahwa dirinya kurang begitu sehat. Apalagi setelah mencoba membuka pembicaraan, terlihat jelas sahabatku ini kesulitan untuk menyampaikan isi pikirannya melalui ucapan. Ada beberapa kalimat yang dia mampu ucapkan dan banyak pula yang dia tidak bisa ucapkan. Disisi lain kami berempat prihatin melihat kondisi rumahnya. Dengan ukuran yang sangat sederhana. Ketika kami bertanya apakah bisa menulis, dia menggelengkan kepalanya, meski kedua tangannya bisa bergerak bebas, tetapi kemampuan menulisnya juga hilang. Sungguh trenyuh hati kami melihat sahabatku ini.

Kami berempat teringat masa lalu, dimana sahabatku ini adalah termasuk pelajar yang cerdas dan energik. Gurauan gurauannya sangat segar dan menghibur. Tetapi setelah 24 tahun kita bertemu lagi dengan suasana yang sungguh berbeda. Sahabatku ini ini tinggal di desa bertiga dengan istri dan anaknya yang baru duduk dikelas 4 SD. Kami mencoba mengajak bicara mengingat masa lalu, ada beberapa hal yang membuatnya tertawa senang dan ada saat sahabatku untuk menangis lepas. Cobaan yang dia hadapi sangat berat. Dikala anaknya yang masih memerlukan banyak dukungan materi dan kasih sayang, sahabatku ini kehilangan sebagian kemampuannya untuk melakukan tugasnya sebagai seorang bapak secara utuh. Kami berempat saling berpandangan, tidak terpikir oleh kami bahwa sedemikian majemuknya Qada dan Qadar Allah SWT terhadap umatnya.

Sahabatku, semoga cepat sembuh dan kembali sehat seperti sedia kala. Amin yaa Rabbal Alamin.

Ya Allah SWT sungguh kami ini termasuk orang-orang yang sering lupa untuk bersyukur. Yang ada hanyalah keluhan dengan daftar yang panjang. Terkadang kita lupa bahwa kesehatan adalah salah satu karunia Allah SWT yang sangat besar dan mewah. Tetapi kita masih sering meminta dalam setiap do'a kita dengan permintaan yang bermacam-macam. Tidak jarang kita mengeluh kenapa do'a kita tidak dikabulkan. Kita selalu menuntut agar Allah SWT memenuhi apapun yang kita inginkan. Kita lupa bahwa Allah SWT akan selalu memberikan apa yang kita perlukan dan bukan apa yang kita inginkan.

Sunday, March 29, 2009

Bagaimanakah mungkin ketulusan dan perjuangan (kerasnya usaha) hanya dinilai dengan kejadian fisik belaka?

Sering kita mendengar seorang mengeluh mengapa saya tidak bisa mencapai tujuan padahal telah banyak yang telah saya lakukan? Mengapa saya mengalami kesialan padahal saya telah banyak memberikan pengorbanan atau membantu mereka yang memerlukan? Mengapa banyak orang percaya bahwa promosi atau kampanye bisa memberikan dukungan dan keberhasilan?
Sebuah keberhasilan juga bisa dilihat dari dua sudut yang sangat kontras. Keberhasilan yang bersifat instan dan keberhasilan yang diperoleh dengan penuh perjuangan dengan mengedepankan nilai kebenaran universal.
Saya pernah menyinggung masalah instan dalam tulisan saya sebelumnya (perbedaan karakter dan personaliti). Dalam kehidupan ini, kita bisa belajar dari alam. Alam tidak mengajarkan kita untuk bisa mendapatkan sesuatu secara instan. Jika kita ingin memanen padi, maka kita harus menanam. Menanam itupun memerlukan suatu proses yang cukup panjang dan banyak persoalan yang harus dihadapi dengan kesabaran dan keikhlasan. Perjuangan dalam proses tersebut meliputi usaha fisik, materi, dan waktu. Terkadang ditengah proses, banyak kejadian yang tak terduga terjadi, misalnya serangan hama, iklim yang tidak bersahabat dan banjir. Selama proses kita harus disiplin dalam melewati tahapan demi tahapan yang ada. Setiap tahapan harus berurutan sesuai dengan kaidah baku yang telah ada, kedisiplinan dalam melakukan pengawasan dengan datang secara rutin disertai melakukan tindakan yang pasti. Setiap kelengahan dan kelalaian akan berakibat fatal pada tanaman yang akan dipanen. Ibarat kata, jika kita tidak memberikan perhatian yang memadai (sesuai porsi yang seharusnya), maka tanaman kita juga tidak akan tumbuh sesuai dengan harapan kita. Satu hal lagi, bahwa saat panen pun harus sesuai dengan waktunya (tidak bisa dipercepat ataupun diperlambat). Mungkin anda tidak setuju dengan pernyataan di atas. Bahwa dengan usaha ekstra, melalui usaha penelitian ilmiah, proses menanam hingga panen bisa dipercepat. Tetapi prinsip yang perlu diingat adalah semua ada waktunya, jika sudah saatnya maka dia akan datang.

Kembali pada proses pencapaian keberhasilan, ada kala seseorang mengambil jalan pintas dengan tidak mengikuti kaidah yang sesuai dengan contoh di atas. Dengan melakukan sikutan ke kiri ata ke kanan, menginjak di bawah, mengelus yang di atas. Lebih tragisnya lagi, yang bersangkutan tidak menambah kemampuannya. Tetapi tidak sedikit mereka yang mengambil di jalur ini mendapatkan kesuksesannya.

Tetapi perlu diingat kesuksesan yang diraih melalui cara ini sebenarnya adalah kesuksesan semu (dia tidak akan bertahan lama). Keberhasilan semacam ini adalah semacam topeng indah yang membalut kebusukan. Topeng ini akan tampak indah dipandang oleh semua mata secara fisik, tetapi kebusukan didalamnya tidak mudah diketahui.
Paradigma semacam ini telah menjadi trend, kebaikan-kebaikan ditonjolkan dengan berlebihan, proses kesedihan ditonjolkan dengan ekspresi yang over. Tampaknya dalam sinetronpun hal semacam ini digambarkan dengan jelas. Apa yang diucapkan dimulut serasa manis, tetapi didalam hatinya tertulis dendam kesumat yang membara. Nilai-nilai semacam ini diobral dengan bebas dan mampu menggiring pemirsa untuk larut didalamnya. Ikut merasakan gelora emosinya. akhirnya nilai hakiki sebuah ketulusan dan perjuangan banyak dianalogkan dengan kegiatan fisik belaka.

Hal semacam ini juga bisa diilustrasikan dalam contoh problem solving. Dalam problem solving ada 2 macam, yang pertama adalah problem solving terhadap masalah yang sudah terjadi dan kedua adalah problem solving untuk mengantisipasi agar masalah tidak terjadi. Dari keduanya, memiliki filosofi seperti sebuah pohon. Jika sebuah pohon diumpamakan sebagai sumber problem (masalah) karena daunnya selalu rontok dan mengotori permukaan tanah disekitarnya. Ada beberapa cara agar pohon ini segera hilang (problem solve), yang pertama adalah memangkas daun pada pohon tersebut problem solve, tidak ada lagi daun yang rontok dan mengotori permukaan tanah. tetapi selang beberapa hari daun tumbuh kembali, dan selanjutnya bisa ditebak ! masalah daun rontok terulang kembali. Kita juga bisa memotong ranting dan dahan, hasilnya pohon kelihatan tinggal batang utamanya saja tanpa daun di atasnya, problem solve, tidak ada lagi daun rontok. Dua pendekatan ini adalah pendekatan fisik semata (pemecahan problem secara instan dan bisa dilihat secara fisik siapa yang melakukannya). Kebanyakan mereka mendapatkan penghargaan atas usahanya tersebut. Tetapi mereka lupa problem hanya secara temporer solve, kelak problem yang sama akan terulang kembali.

Disisi lain, seorang yang bekerja dibawah tanah, membuat akar pohon tersebut berhenti berkembang (mematikan fungsi akar, sementara membiarkan dahan, ranting, dan daun tetap exist). Cara ini biasanya perlu waktu untuk bisa memberikan hasilnya. Kebanyakan orang, menyatakan orang yang mengambil cara ini adalah orang yang gagal dalam proses problem solving karena hasilnya tidak bisa dilihat secara langsung.
Tetapi dengan berjalannya waktu, pohon tidak mendapatkan asupan makanan dan perlahan-lahan kering dan akhirnya mati. Sehingga tidak mampu lagi menghasilkan daun selama-lamanya. Inilah problem solving sejati. Inilah ketulusan dan perjuangan sejati, tidak memberikan dampak langsung, dampaknya perlahan tetapi permanen !

(pesona ottawa, 12.56 am, 5 Januari 2010).

Thursday, February 5, 2009

Membangkitkan dan Menjaga Energi Positif Untuk Mencapai Cita-Cita

Dalam suatu waktu, disaat menjalani masa orientasi mahasiswa baru dipertengahan tahun 1986, seorang pemuda dengan penuh semangat dan harapan menjalani acara demi acara yang telah dikemas sedemikian rupa tanpa kelihatan rasa lelahnya. Dengan tekat yang membara, dia berangkat dan meninggalkan keluarga tercinta untuk menuju sebuah kota yang berjarak 90km dari kota kelahirannya. Hari itu merupakan hari pertama si pemuda meninggalkan rumah dan jauh dari keluarga. Mencari kontrakan rumah bersama beberapa sahabat karib SMA. Hidup dikontrakan merupakan pengalaman baru yang memerlukan banyak pembelajaran.

Dalam masa orientasi tersebut, satu demi satu dia mendapatkan sahabat baru. Bentakan dan hardikan kakak senior seakan menjadi cambuk baginya untuk bangkit dan membuktikan bahwa kelak dia akan berhasil, dan mampu menjadi teman yang baik bagi kakak senior. Menjalani kehidupan mandiri, dimana segala sesuatunya harus dikerjakan dan diputuskan sendiri. Niat yang telah bulat membuatnya untuk selalu berhati-hati dalam melangkah. Keinginan berhasil dalam proses belajar dibangku kuliah demikian kuatnya, hingga pada suatu hari sang pemuda menerima pembagian buku panduan mahasiswa. Di dalamnya dijelaskan dengan detail, mata kuliah apa saja yang harus diselesaikan pada tiap semesternya. Dibacanya buku tersebut dengan seksama, halaman demi halaman, banyak hal yang dia tidak mampu memahami. Buku ini benar-benar hal baru dan banyak membinggungkan !! Disaat rasa putus asa mulai menghinggapinya, hampir saja buku tersebut disimpan rapat dalam lemari dan berikeinginan untuk tidak membukanya kembali.

Teringat akan janji dalam hati kecilnya sebelum berangkat meninggalkan rumah, terusik akan keinginannya untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi orang tua tercinta dirumah, dan sadar akan keinginannya untuk membuktikan pada keluarga, maka dibukanya kembali buku warna hijau tersebut, dibacanya berulang-ulang, hingga pada akhirnya si pemuda menemukan bahwa buku tersebut memberikan panduan bagi mahasiswa baru bagaimana menempuh proses kuliah dengan baik dan benar. Perlahan-lahan dikutipnya satu persatu mata kuliah yang tertulis pada buku tersebut, disalinnya pada buku yang masih kosong dan disela-sela proses pencatatan tersebut, sang pemuda berjanji dalam hati kecilnya bahwa dia akan memastikan untuk mendapatkan nilai yang baik agar bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu dengan nilai yang baik pula.

Bulan berlalu, tahun berganti. Setiap semester dia selalu menyalin target mata kuliah dan dicatat besar-besar di kertas HVS lalu ditempel didinding kamarnya. Setiap saat dia bisa membaca target tersebut. Dan setiap saat pula hatinya tergerak untuk berucap saya harus mampu menyelesaikannya dengan baik. Seberat apapun dan sesulit apapun bukanlah masalah besar.

Bukanlah perjalanan yang mudah untuk menanamkan keyakinan pada diri sendiri bahwa seluruh target mata kuliah yang dia harus selesaikan ditiap semester bisa memberinya semangat. Terkadang ditengah jalan kejenuhan, timbul permasalahan dalam pergaulan, permasalahan dengan dosen, permasalahan dalam organisasi kemahasiswaan, permasalahan asmara, masalah keluarga, keuangan, dan sebagainya membuat si pemuda merasa demikian putus asa.

Satu hal yang selalu membawanya kembali dan fokus pada tugasnya adalah janji yang terucap dan telah ditulisnya besar-besar dikamarnya. Tanpa sadar, pemuda tersebut telah membangun energi positif dengan cara menulis besar-besar target-targetnya dan ditempel dikamar. Energi positif ini telah tumbuh perlahan, sedikit demi sedikit bagaikan pupuk yang menyuburkan. Energi positif ini secara otomatis telah menggerakkan sang pemuda untuk selalu mengarahkan segenap jiwa dan raganya agar mencapai apa yang telah ditulisnya.
Dikala kesedihan menghampirinya (dalam masalah yang bervariasi), kekuatan energi positif tersebut membantunya agar tidak terjerumus dalam hal-hal negatif. Bahkan sebaliknya dia dituntun ke dalam aktifitas positif yang lainnya.

Pernah suatu hari, sang pemuda menghadapi permasalahan yang cukup rumit dalam kehidupan pribadinya. Otak seakan akan meledak, disaat yang sama dia menghadapi ujian semester. Kegalauan yang dia hadapi sedikit banyak telah mempengaruhi konsentrasinya dalam menjalani ujian semester tersebut. Disaat ujian semester berakhir, tanpa dia sadari keinginan kuat untuk menetralisir masalahnya tersebut telah memerintahkan sang kaki untuk berjalan menuju stasiun kereta api bersama-sama beberapa sahabat karibnya dan pergi ke Jakarta !! yahhhh... si pemuda pergi ke Jakarta dalam rangka membuang jauh-jauh kepedihan hatinya !! Beberapa hari berada di jakarta dia merasa ringan, beban beratnya telah hilang ! Disaat kembali dikampus, dia mendapati nilai-nilai hasil ujiannya anjlok, meskipun tidak sampai dibawah rata-rata. Tetapi ini cukup membuatnya khawatir akan kegagalan dalam menyelesaikan tugas kuliahnya sesuai target.

Suatu hari di bulan April 1990, sang Pemuda berseru Alhamdulilah, dalam waktu 3 tahun 8 bulan aku telah menyelesaikan tugas kuliah, dan baru saja dinyatakan lulus setelah menjalani ujian lesan di depan beberapa dosen senior. Meski tidak mendapatkan nilai tertinggi, tetapi si pemuda cukup berbangga hati bahwa bisa selesai tepat waktu dan sedikit lebih cepat 4 bulan dari target yang dia telah tetapkan.


Pelajaran Berharga Dari Cerita Di Atas

Dengan menuliskan target yang ingin kita capai, dan memperbaharuinya secara konsisten, berjanji dalam hati bahwa saya BISA melakukannya, hal ini akan memberikan dorongan energi positif di dalam diri kita. Tanpa sadar segenap komponen anggota badan akan berlomba-lomba memberikan dukungan tanpa syarat. Tanpa kita sadari setiap gerakan kita secara perlahan akan dituntun agar apa yang kita tulis tersebut menjadi kenyataan. Disaat pemuda menuliskan mata kuliah yang harus diselesaikan pada semester tertentu, setiap saat langkah yang dijalaninya secara reflek membawanya agar selalu membaca, agar selalu bersemangat menyelesaikan setiap tugas praktikumnya, selalu bersemangat untuk hadir di kelas, dan bersemangat untuk mencatat apapun yang berkaitan dengan mata kuliah tersebut.

Awal Feb 2009. Mengenang Masa Lalu. Tepat pukul 00.00 wib. Pesona Ottawa - Kota Wisata Cibubur.

Saturday, January 31, 2009

Thursday, January 8, 2009

Hilangnya Keberanian Untuk Menegakkan Kebenaran

Pada suatu kesempatan saya membaca sebuah papan yang dipasang ditempat umum dengan bunyi sebagai berikut: “AWAS... Membuang Sampah Sembarangan Akan dihukum Penjara... atau denda ..” Sejenak saya berhenti dan merenung, cukup sering saya menemukan tulisan sejenis di tempat umum seperti ini, misalnya larangan untuk merokok, larangan parkir, larangan berhenti, dan sebagainya. Tidak sedikit diantaranya yang disertai ancaman.
Ironisnya justru pelanggaran bisa terjadi tepat di bawah papan pengumuman yang bertuliskan adanya larangan tersebut. Tepat di bawah “Dilarang membuang sampah disini..” tetapi di tempat ini sampah berserakan. Banyak mobil terparkir di bawah rambu larangan parkir. Sangat akrab dalam rutinitas kita pelanggaran-pelanggaran nyata seperti ini kerap terjadi dan menjadi bagian yang lumrah untuk tidak dipermasalahkan.
Lahan kosong dibantaran sungai (tepi sungai), secara pelan tapi pasti bergeser menjadi bangunan-bangunan permanen yang kokoh. Bangunan ini berdiri di atas tanah yang bukan menjadi haknya. Berdalih pada kondisi tekanan ekonomi, pembenaran akan hal ini demikian kental kita rasakan. Kolong jembatan tol, juga tidak luput dari ancaman semacam ini.
Pagi ini, saya juga mendengarkan sebuah berita dari sebuah radio swasta, bahwa pemerintah DKI akan menerapkan kontrol yang tegas bagi warga yang memiliki KTP ganda, bagi mereka yang memiliki KTP ganda akan dikenakan denda 25 juta rupiah !! mencengangkan kedengarannya. Tetapi bukan ini yang membuat hati kecil saya terusik, tetapi kalimat berikutnya yang membuat saya terhenyak. Sang penyiar melanjutkan beritanya, penerapan peraturan ini sesuai dengan peraturan pemerintah nomor xxx yang telah disyahkan sejak tahun 2006. Artinya bahwa sejak disyahkannya peraturan ini nampaknya tidak pernah diterapkan. Dan baru 2 tahun kemudian diributkan untuk segera diterapkan.
Mengapa fenomena-fenomena di atas bisa terjadi? Ancaman seakan tinggal ancaman tanpa tindakan, pelanggaran nyata tidaklah berarti apapun, gangguan publik bukannya ditindak, peraturan dibuat bukan untuk diterapkan.
Sesaat saya teringat akan tulisan saya terdahulu tentang hilangnya kepekaan sosial, petugas pemerintah yang digaji dari pajak masyarakat, diharapkan mampu menegakkan kedisiplinan dimasyarakat bahkan hanya mampu memasang papan-papan ditempat umum yang berisi ancaman bagi pelanggarnya. Walhasil tindakan nyata sangat minim dilakukan. Sementara disisi lain masyarakat juga tidak memiliki kepedulian untuk berani menegur pada siapapun yang melanggar aturan-aturan sosial, aturan-aturan hukum yang telah diatur dan memiliki sanksi yang jelas.
Dimanakah keberanian kita untuk mengatakan “jangan”, untuk berkata “tidak”, untuk meberikan “peringatan” pada saudara-saudara kita yang melakukan pelanggaran akan hal-hal yang telah disepakati bersama. Cukup banyak dari kita yang berdiri pada sisi “Ahh ... bukan urusan saya”, secara perlahan kita telah memberikan ijin atas kerusakan-kerusakan kecil yang akan terjadi. Kerusakan ini kelak akan menjadi besar dan membahayakan bagi mereka yang tinggal disekitarnya. Hal-hal sederhana yang telah diabaikan, sebenarnya merupakan ancaman nyata yang tertunda. Sebagian besar dari kita akan tersadar setelah ancaman tersebut menjadi kenyataan, misalnya:
· “Bencana Banjir-akibat dibiarkannya setiap orang membuang sampah tidak pada tempatnya, membuang sampah tanpa mempertimbangkan mana yang bisa didaur ulang dan mana yang berbahaya bagi lingkungan”,
· “Kecelakaan-akibat kelengahan yang disengaja”,
· “Kemacetan-akibat tidak tertibnya pengguna jalan raya, lemahnya aparat untuk memberikan tindakan” ,
· “Korupsi merajalela dan menjadi budaya disetiap lini kehidupan-akibat praktek antara penyuap dan yang disuap, ini terjadi dilevel apapun”
Beberapa contoh di atas adalah contoh kecil yang terjadi karena hilangnya keberanian kita untuk menegakkan kebenaran! Ketakutan lebih nampak nyata menghinggapi individu di masyarakat kita. Egoisme untuk menyelamatkan diri sendiri demikian menonjolnya, sehingga mengabaikan keselamatan masyarakat. Sampai kapan kita akan memendam setiap temuan kejahatan, temuan ketidak adilan, temuan tindakan arogan, temuan tindakan tidak terpuji, dan sebagainya itu dan kita diamkan tanpa seorangpun memiliki keberanian untuk berkata STOP. Kita telah mengijinkan kezaliman berada di atas kebenaran, Kebenaran hakiki dikalahkan hanya oleh gerombolan orang yang hakekatnya bersalah, tetapi karena jumlahnya cukup banyak mereka dianggap yang benar. Sampai kapankah hati nurani kita terbuka? Sebagai manusia saya sangat yakin, bahwa mereka memiliki hati nurani yang menyadari kebenaran universal, yang setiap saat menyeruak pada dada mereka disaat mereka melakukan kezaliman. (Jakarta, 8 Januari 2008, Renungan Malam 23:16 pm).

Thursday, November 20, 2008

Pembeda Mukmin dan Munafik

Rasulullah saw, ketika ditanya orang yang mukmin dan munafik, beliau bersabda: "Orang mukmin ialah orang yang tujuan hidupnya untuk sholat dan berpuasa. Sedangkan orang munafik ialah orang yang tujuan hidupnya untuk makan dan minum laksana binatang, meninggalkan ibadah dan sholat. Orang mukmin sibuk bersedekah mencari ampunan. Sementara orang munafik sibuk dengan kerakusannya dan panjangnya angan-angan yang berlarut-larut. Orang mukmin memutuskan harapan dari setiap orang kecuali kepada Allah swt, dan menawarkan hartanya demi kepentingan untuk agama Allah swt. Sedangkan orang munafik menawarkan agamanya demi kepentingan harta dunia. Orang mukmin merasa aman dari semua orang kecuali dari Allah swt. Sedangkan orang munafik gemar berbuat jahat dengan perasaan bangga dan gembira ria. Orang mukmin bertanam dan mengkhawatirkan akan kerusakannya, sedangkan orang munafik merusak dan mencabuti (tanaman), namun ia berharap bisa memanen. Yang terakhir, orang mukmin memerintah dan melarang menurut ketentuan agama dan selalu berusaha melakukan kebaikan. Sementara orang munafik memerintah dan melarang untuk kepentingan dan kepemimpinannya serta suka berbuat kerusakan. Bahkan orang munafik, memerintah yang munkar dan melarang yang ma'ruf". (dari buku menyingkap rahasia Qolbu - Al-Ghazali).

Tuesday, November 18, 2008

Persepsi

Apakah persepsi itu? secara sederhana menurut pandangan pribadi saya adalah proses menterjemahkan sesuatu setelah indera kita menerimanya.

Sesuatu itu bisa berupa benda, peristiwa, obyek, pernyataan, kata/kalimat dimana indera bisa menerimanya sebagai sentuhan yang perlu segera diterjemahkan. Bagaimana proses persepsi dibentuk? Manusia memiliki banyak dimensi dalam mengolah setiap momentum yang diterimanya. Beberapa diantaranya adalah aspek religius, lingkungan sekitar, pola pendidikan keluarga, nilai-nilai atau norma yang berlaku, pengalaman, pengetahuan yang telah dipelajarinya, dan banyaknya fakta yang mendukung informasi yang diterima melalui indera.

Bila kita melihat suatu benda tiga dimensi, perbedaan posisi sudut pandang saja akan menghasilkan terjemahan yang berbeda akan benda tersebut. Ilustrasi ini bisa dibuat analog untuk benda yang lebih abstrak misalnya sebuah kebahagiaan seseorang. Mungkin kita menilai seorang disebut bahagia jika yang bersangkutan memiliki banyak harta, atau memiliki jabatan yang disegani, atau memiliki banyak teman. Sudut pandang ini juga dibatasi oleh kemampuan yang bersangkutan. Oleh sebab itu janganlah mudah memberikan pendapat dengan mematahkan pendapat orang lainnya. Cobalah berdiri pada sudut pandang yang sama, sehingga anda bisa mengerti mengapa seseorang memiliki pendapat yang berbeda dengan kita.

Coba renungkan ilustrasi sederhana ini, seorang anak kecil yang baru saja dibelikan mainan berupa mobil-mobilan oleh orang tuanya. Disaat dia sedang bermain, datang teman sebayanya. Meski sebelumnya teman sebayanya ini adalah teman karibnya, tetapi disaat sang teman ini mencoba meminjam mobil tadi, spontan si anak menariknya secara kasar. Pada saat yang bersamaan ada seorang dewasa yang melihat kejadian tersebut, dan secara reflek bergumam wah sungguh pelit anak tersebut, pada teman karibnya saja tidak mau berbagi. Tetapi bagi si kecil yang baru mendapatkan hadiah mobil tadi, dia masih ingin memuaskan dirinya untuk bermain dengan mobil barunya, dia sendiri baru saja mendapatkannya. Sesuai dengan usianya yang memang suka bermain, dan jika kita coba membawa diri kita pada sudut pandang sikecil tadi, kemungkinan besar kita akan bertindak sama. Mungkin setelah si kecil bosan dengan mobil tadi, secara sukarela dia akan memberikannya ke teman karibnya.

Jika persepsi dikembangkan pada lingkungan kerja, jika masing-masing orang ditempat kerja memiliki kebesaran hati dalam memaknai setiap kejadian dalam pekerjaan, mungkin semua masalah akan menjadi ringan, karena setiap orang akan saling membantu dan mengisi atas kelemahan yang lainnya. Yang lebih akan memberi dan yang kurang akan terus belajar dan didukung.

Monday, November 17, 2008

Team Work

Definisi
Team work adalah sekelompok orang yang berjumlah dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk mencapai satu tujuan yang sama.

Jadi tidak semua kelompok orang yang berkumpul disebut sebagai team work. Jika sekelompok orang berkumpul dan tidak memiliki tujuan sama, bisa jadi disebut gerombolan. Jika mereka memiliki tujuan sama tetapi tidak memiliki pembagian tugas maka inipun tidak termasuk dalam kategori team work, bisa jadi kelompok ini merupakan demonstran. Atau pada satu kesempatan anda menjumpai kumpulan orang disatu tempat jumlahnya cukup banyak, mereka ini ingin melihat sesuatu yang sama, tetapi tidak jelas siapa pemimpinnya, apa tugas masing-masing, tidak berbagi bahkan berebut tempat terdepan, biasanya ini disebut kerumunan.

Team work memiliki makna yang lebih positif, penuh energi dan spirit, dan memberikan manfaat tidak saja bagi anggotanya tetapi bagi lingkungan sekelilingnya. Team work ini bisa di identifikasi dari beberapa hal sebagai berikut:
  1. Adanya seorang leader
  2. Memiliki tujuan yang sama
  3. Saling berbagi pengetahuan
  4. Antusias
  5. Tidak saling menonjolkan ego
  6. Intensif berkomunikasi
  7. Memiliki pembagian tugas yang jelas
  8. Mempunyai target waktu
  9. Saling mengisi dan harmonis
  10. Memiliki komitmen

Leader:

Tanpa leader, kelompok orang tidak bisa disebut sebagai team work. Mengapa? karena masing-masing orang dalam kelompok tersebut akan bergerak tanpa ada yang mengendalikan dan memberi arah sehingga gerakan kelompok menjadi tidak terarah. Ibarat kelompok musik yang terdiri dari beberapa orang dengan alat musik yang berbeda. Meskipun masing-masing orang sangat ahli memainkan alat musiknya, jika tidak ada konduktor yang mengarahkannya, musik yang dihasilkan menjadi kurang harmoni.

Tujuan yang sama

Tanpa tujuan yang sama, setiap orang dalam kelompok tersebut akan bergerak tanpa arah yang jelas. Bahkan mereka menjadi terpecah-pecah setiap saat. Tidak ada kestabilan dan tidak ada yang menjadi perekat agar kelompok tersebut selalu bersama. Tidak ada satupun sasaran yang bisa dicapai.

Berbagi Pengetahuan

Setiap orang memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Kelebihan yang dimiliki masing-masing anggota bisa berbeda-beda, dan jika mereka berbagi akan memberikan akselerasi yang sangat hebat dan mampu menutupi kelemahan yang ada. Kelebihan dan kelemahan ini akan saling mengisi sehingga komposisi menjadi solid. Berbagi pengetahuan merupakan modal dasar bagi sebuah team work untuk mewujudkan tujuannya sesuai target yang telah ditetapkan.

Antusias

Bisa dibayangkan jika team work tidak memiliki antusias (semangat). Meskipun mereka mempunyai tujuan yang sama, masing-masing anggota telah saling berbagi, dan leader juga ada, tanpa semangat seperti robot tanpa jiwa. Tidak ada keinginan untuk bergerak, apalagi keinginan untuk meraih sesuatu. Antusias ini diperlukan sebagai pembangkit rasa percaya diri (Believe) bahwa tidak ada yang tidak mungkin, semangat pasti bisa!! Jiwa ini diperlukan oleh setiap team work.

Tidak Saling Menonjolkan Ego

Komponen ini memegang peranan penting dalam memastikan harmonisasi dari sebuah team. Jika masing-masing orang bersikeras atas keinginannya maka team tidak akan mampu bergerak maju, yang ada justru jalan ditempat. Karena setiap anggota menginginkan agar kemauannya dituruti. Team work memerlukan pengorbanan untuk mengalah untuk mendapatkan hasil yang lebih besar. Team work memerlukan kebesaran hati, disaat pendapat orang lain lebih realistik dan dan mayoritas anggota setuju, maka meski kita tidak sepaham, kita harus berbesar hati untuk mendukung pendapat tersebut agar tujuan team bisa tercapai.

Intensif Berkomunikasi

Tidak bisa digambarkan akan menjadi apa jika sebuah team work dibangun tanpa ada komunikasi di dalamnya. Bagaimana sebuah tujuan bisa dipahami oleh seluruh anggota jika tidak ada proses komunikasi? atau jika komunikasi hanya dilakukan sekali yakni saat pembentukan team, pembagian tugasnya, memberi tahu tujuannya tetapi setelah itu tidak ada komunikasi lanjutan. Apakah mungkin memonitor perkembangan yang terjadi, tanpa komunikasi tidak bisa diketahui sampai dimana proses yang sudah ada. Apakah proses sesuai arah yang sudah ditetapkan, kesulitan-kesulitan apa saja yang dijumpai, dan seterusnya. Komunikasi merupakan syarat mutlak agar team work bisa dimonitor perkembangannya, evaluasi bisa dilakukan, tindakan koreksi bisa diambil secepatnya untuk mengembalikan pada jalus yang benar.

Memiliki pembagian tugas yang jelas (update 12.20 am, 5 Januari 2010)

Ibarat sebuah mobil, ada bagian-bagian yang bekerja secara berbeda, tetapi semua perbedaan tersebut menghasilkan suatu harmoni sehingga menimbulkan efek pergerakan yang serasi dan bermanfaat sebagai alat transportasi. Hal yang demikian itu menggambarkan adanya kumpulan komponen yang memiliki fungsi dan peran yang berbeda akan tetapi bersinergi satu dan lainnya untuk mencapai sebuah tujuan. Team work juga harus memiliki filosofi seperti mobil tadi. Pembagian tugas yang jelas sesuai dengan target utama yang ingin dicapai. Pembagian tugas ini disesuaikan dengan kemampuan (skill) yang dimiliki oleh masing-masing anggota. Pembagian fungsi dan peran yang tidak berdasarkan skill dan kompetensi akan menghasilkan disharmonisasi bahkan kegagalan sebuah proses mencapai target utama. Pada saat fungsi dan peran sudah demikian jelas, keuletan, kegigihan, kesabaran, keyakinan (passion) dalam menjalankan fungsi dan peran yang diberikan merupakan bahan bakar penggerak menuju kesuksesan (pencapaian target utama).

Saturday, November 15, 2008

Hilangnya Kepekaan Sosial

Sebagai anak bangsa, kita wajib bangga menjadi warga Indonesia. Bangsa yang dikenal dengan adat ketimuran yang sangat santun dan memiliki sikap gotong royong yang sangat tinggi. Meski terdiri dari berbagai suku, agama dan latar belakang budaya yang majemuk, kita tetap mampu memelihara kehidupan yang rukun dan damai.

Sejalan dengan bergulirnya sang surya, hari berganti bulan, bulan berganti tahun, mungkin kita sudah menyadari bahwa kebanggaan di atas pada masa sekarang ini patut dipertanyakan ulang. Apakah memang benar kita masih layak untuk menyandang predikat tersebut. Tengoklah akibat proses belajar menuju demokrasi, beberapa contoh demokrasi politik yang sedang berlangsung telah menggores sejarah baru bahwa nilai-nilai dimasyarakat kita telah bergeser. Konflik dan kekerasan hampir setiap hari beredar tayang di media. Sepak bola, merupakan contoh nyata yang lainnya dan sangat memprihatinkan. Justru olah raga diharapkan menjadi tali perekat kerukunan antar kelompok masyarakat dan menjunjung nilai sportifitas, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Kebrutalan mengatasnamakan kekalahan, ketidakpuasan, dan kebencian atas keberhasilan kelompok lain telah menjadi tuntunan dan wajar bila dilakukan. Ironisnya bagi yang menangpun terkadang melampiaskannya dengan kebrutalan yang serupa!

Mari kita tengok bagaimana kejadian seperti ini menjadi hal yang rutin dalam keseharian kita dimasyarakat. Dari bagian terkecil dalam kehidupan sosial, yakni manusia sebagai individu. Bagaimanakah kesadaran seorang manusia sebagai individu? Bagaimana mereka memperoleh pemahaman sejak usia dini? Apakah mereka mendapatkan pendidikan yang baik dari senior-senior mereka (orang tua) ? Apakah mereka paham sebagai individu disamping memiliki hak, mereka juga harus memenuhi kewajibannya dalam hidup bermasyarakat? Apakah mereka paham bahwa hidup haruslah memberikan manfaat pada yang lainnya, pada lingkungannya, pada alam dan menjaga keseimbangan sesuai sunattullah yang sudah menjadi ketetapan Allah SWT.

Mengapa fenomena ini terjadi?
Kebudayaan merupakan bentukan dari sebuah perilaku atau kebiasaan yang diterapkan berkali-kali oleh individu atau sekelompok individu dalam satu lingkungan. Tentu saja perilaku yang pada akhirnya bisa diterima oleh mayoritas kelompok individulah yang akhirnya bertahan. Kebudayaan biasanya merupakan kombinasi dari ilmu, agama, norma yang berlaku, dan kondisi alam lingkungan sekitarnya.
Budaya diawali dari sebuah keluarga kecil, terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Dari lingkungan kelompok terkecil ini, secara perlahan akan mampu menggeser nilai-nilai budaya yang berlaku. Pergeseran ini tidak serta merta terjadi, tetapi perlu rentang waktu yang lama dan mungkin menunggu hingga generasi ke generasi.

Di negeri kita tercinta ini, pertumbuhan penduduk cukup pesat terjadi. Pembangunan di beberapa wilayah mengakibatkan satu wilayah menjadi favorit bagi warga untuk didatangi. Mereka datang dan berduyun-duyun untuk mendapatkan perubahan hidup yang 'lebih baik' dibanding dengan ditempat asalnya. Dari sinilah konsep persaingan diawali, mereka akan memaksimalkan usahanya agar bisa menjadi yang terbaik, mendapatkan bagian yang paling besar. Kepedulian akan sesama menjadi kebutuhan nomor 2, nomor 3, nomor 4 dan hingga tak terhitung sekarang ini berada diposisi keberapa. Dengan semakin banyaknya jumlah manusia yang datang pada wilayah ini, secara tidak langsung mereka membutuhkan lahan baru untuk tempat tinggal. Lahan-lahan yang tadinya digunakan untuk persawahan, hutan nan hijau, dan bahkan merupakan aliran sungai telah diperebutkan untuk tempat tinggal. Keseimbangan ekosistem alam menjadi bergeser. Wilayah menjadi tidak seimbang, kelembutan berubah menjadi kekerasan, kesejukan menjadi kegerahan, keindahan menjadi kegersangan dan seterusnya. Pergeseran ekosistem alam ini secara tidak langsung merubah hakekat hidup manusia. Manusia yang secara lahiriyah adalah mahluk individu dan sosial yang seimbang, telah bergeser menjadi lebih individualistis dibandingkan sosialisnya.

Lihatlah bagaimana kehidupan diperkotaan baru (komplek perumahan yang baru dibuka dengan fasilitas lengkap sehingga layak disebut sebagai kota baru). Bagaimana nilai-nilai budaya ditanamkan pada seorang anak. Jarang kita melihat anak-anak bermain didepan rumah dengan tetangga mereka, mereka memiliki permainan yang lengkap yang disediakan orang tua mereka dirumahnya. Sehingga mereka tidak memerlukan teman untuk itu. Sementara dirumah orang tua sibuk dengan kegiatannya sendiri, dan membiarkan anak-anak mereka bermain dengan permainan yang melatihnya untuk menjadi individu yang egois (secara perlahan). Kelak generasi yang demikian inilah yang akan menggantikan generasi sebelumnya yang mendapatkan pola didik yang jauh berbeda dengan mereka. Kelak kebudayaan Indonesia yang kita banggakan bersama ini perlahan menjadi luntur, dan akan muncul budaya baru yang penuh egoisme dan individualistis.

Ironis !! bahkan kita tidak mengenal sistem persaudaraan hingga beberapa tingkatan ke bawah, yang dipahami oleh anak-anak kita adalah keluarga dimana ada ayah, ibu, kakek dan nenek. Agak melebar sedikit mungkin mereka mengenal sepupu dari keluarga ayah ataupun ibu mereka. Sedangkan untuk lebih jauh dari tingkatan tersebut mereka tidak mengetahuinya.
Ingatkah dimasa kecil, kita sering melihat didepan rumah ada sebuah kendi tanah liat yang berisi air, siapapun yang dalam perjalanan merasa kehausan dengan mudah meminumnya, ingatkah kita pada masa lalu disaat ada keluarga yang pindah, tanpa diminta tetangga akan berdatangan memberikan bantuan secara sukarela, ingatkah kita bagaimana senangnya bercengkrama dengan keluarga besar di desa? sayangnya hal tersebut menjadi hal yang langka saat ini.

Apakah kita menginginkan budaya yang sangat kita banggakan sebelumnya tersebut kian musnah dari bumi pertiwi tercinta ini, ataukah kita menginginkannya kembali. Dimana kelembutan, akhlak yang santun dan ringan tangan kepada sesama menjadi hal rutin yang bisa kita jumpai dalam lingkungan dimana kita bernaung ini.

Wassalam, Surabaya, 16 Nov 2008, 12.30 wib.

Quote for today

There is alwaysa better way

Thursday, November 13, 2008

Personality versus Character

Personality
Proses penyesuaian sikap untuk mencapai sesuatu, personality bisa dicapai melalui belajar meniru sikap atau nilai umum yang banyak dianut oleh masyarakat, belajar tersenyum walau hati sedang luka, menjaga sikap kesopanan meskipun hati kecil berontak ingin banyak tingkah, menjaga cara bicara meskipun bertentangan dengan nurani, berusaha berbesar hati didepan khalayak meski hati ingin bersumpah serapah. Personality merupakan cerminan keberhasilan sesaat, dia merupakan topeng yang menutupi keadaan yang sesungguhnya. Sulit mengetahui apa isi hati yang sesungguhnya

Character
Sikap apa adanya yang muncul dari sebuah pribadi, baik disaat berada didepan khalayak ataupun saat menyepi seorang diri. Character merupakan indikator murni untuk menilai sebuah pribadi, karena character bukanlah topeng, ia adalah wujud nyata sebuah kejujuran atas semua hal, jika ia baik maka kebaikan akan selalu muncul baik itu diminta atau tidak, jika ia buruk maka keburukan akan selalu muncul meski tidak diminta.
Character bisa dikendalikan dengan penanaman akhlak sejak dini, karena akhlak mengajarkan nilai-nilai universal yang bermanfaat bagi seluruh makhluk hidup dimuka bumi ini.
"Jika hamba-Ku berniat melakukan kebaikan dan ia tidak mengerjakannya, Aku menulis baginya satu kebaikan. Jika ia mengerjakannya, Aku menulis sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat untuknya. Dan jika ia berniat melakukan kejelekan dan ia tidak melakukannya Aku tidak menulis kejahatan baginya, dan jika ia melakukannya Aku menulis satu kejahatan baginya." [HR. Muslim]